Artikel Sabilillah

Menggapai Kejayaan Hidup oleh Dr. Ali Masykur Musa, M.Si., M.Hum
Ditulis pada 23-11-2011 13:59 oleh Yosman


Dalam hikayat Nabi Adam as disebutkan, ilmu yang dianugerahkan kepadanya ternyata tidak bisa menyelamatkan Nabi Adam as dari golongan iblis yang kemudian membuatnya jatuh dari surge ke muka bumi. Ilmu saja ternyata tidak cukup menutupi Adam dari "ketelanjangan".

Selain ilmu, manusia harus menjadikan takwa sebagai buasananya, dan takwa itulah busana manusia yang terbaik (wa libasut taqwa dzalika khair). Gabungan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dan iman dan takwa (imtak) merupakan kunci umat manusia meraih kebahagiaan dan kejayaan hidup di dunia dan akhirat. Tuhan berfirman “Yarfa’illahu-lladzina amanu minkum walladzina ‘utul ilma darajat” (QS. Al- Mujadalah 57:11) (Allah akan mengangkat beberapa derajat orang-orang yang beriman dan berilmu).

Selain iptek dan imtak, kunci mengapai kejayaan hidup di dunia dan akhirat tidak kalah penting dan memang berada dalam satu paket adalah amal saleh. Amal saleh adalah etos kerja yang outputnya adalah perbuatan baik yang telah teruji kebaikannya baik secara pribadi maupun sosial. Perbuatan baik secara pribadi tetapi tidak baik secara sosial belum bisa disebut amal saleh. Begitu juga sebaliknya. Dalam hemat penulis, amal saleh mencakup perbuatan yang berdimensi kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Sebab, misi dari ajaran Islam yang dibawakan Rasulullah saw adalah pembangunan moral dan penyempurnaan akhlak. Moral dan akhlak selalu berdimensi ganda: akhlak pribadi dan akhlak sosial, vertikal sekaligus horizontal. Belum berakhlak jika seseorang hanya baik untuk dirnya sendiri, tetapi tidak bagi orang lain dan lingkungan sekitar. Nabi bersabda khairun nas an fa’uhum lin nas (sebaik-baik manusia adalah yang paling membawa manfa’at untuk orang lain).

Seseorang, suatu masyarakat, sebuah bangsa yang mengembangkan ilmu pengetahuan , dilandasi oleh nilai-nilai keimanan kepada Tuhan dan memiliki etos kerja yang tinggi akan mendapatkan kejayaan hidup di dunia dan akhirat. Sebuah surat pendek di dalam Al-Quran, tetapi dinilai sangat penting oleh imam Syafi’I, adalah Surat al-Ashr. Imam syafi’I menyatakan:  law fakkaran naasu kulluhum fi hadzihis surah lakafathum (andai saja seluruh umat manusia merenungi kandungan surat ini niscaya cukup (bagi bekal kehidupan) bagi mereka. Diawali denga sumpah demi masa (wal ashr), surat ini menegaskan bahwa semua manusia niscaya berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling berwasiat untuk kebenaran dan kesabaran. Iman mewakili dimensi vertikal, amal saleh mewakili dimensi horizontal, saling berwasiat untuk kebenaran dan kesabaran merangkum tugas manusia sebagai Abdullah dan khalifatullah.  Sebagai khalifatullah, tugas manusia adalah mendorong mengajak  manusia kepada Allah, meneladani sifat –sifat  Allah, memantulkan dan membumikan  pesan-pesan ketuhanan untuk saling berbuat baik dan benar serta bersabar memikul tugas-tugas kekhalifahan itu. Termasuk didalam tugas kekhalifahan ini adalah dakwah kebenaran dan kebajikan (yad’uuna ila-l khair)  serta amar ma’ruf nahi munkar (ya’ muruuna bi – l ma’ruf wa yan hawna ‘ani-l munkar).

Dari paparan diatas, prasyarat-prasyarat seseorang, sebuah masyarakat atau sebuah bangsa untuk meraih kejayaan hidup di dunia dan juga di akhirat adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), beriman dan bertakwa kepada Tuhan (imtak), memiliki etos kerja yang outputnya adalah amal saleh, serta kepedulian terhadap tugas menjadi khalifatullah fi-l ardl . Prasyarat-prasyarat ini merupakan pilar-pilar penting menuju kebangunan masyarakat dan bangsa. (Rangkuman redaksi dari Pengajian Eksekutif Ke VII, yang disampaikan oleh Dr. Ali Masykur Musa, M.Si., M.Hum)

 

[Indeks Artikel]
Home | Profil | Daftar donator | LSES | Berita | Kontak
Visit us Online:  Facebook Youtube
Hak Cipta 2013 LAZIS Sabilillah Malang