Artikel Sabilillah

PERINGATAN ALLAH TERHADAP YATIM DAN FAKIR MISKIN oleh. KH. Anas Bashori.
Ditulis pada 23-11-2011 14:12 oleh Yosman


Firman Allah surat Adh Dhuha : 9-10 :

وقال تعالى : فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلا تَقْهَرْ ، وَأَمَّا السَّائِلَ فَلا تَنْهَرْ

Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang, Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya. (adh- Dhuha : 9-10).

Ketika kita dalam kondisi mampu baik secara materi ataupun pada saat itu sedang memegang kendali suatu kegiatan, terkadang kita lupa bahwa apa yang difirmankan Allah itu dengan tanpa disadari kita langgar; satu contoh mudah : "ketika kita menjadi ketua panitia pembagian zakat, shodaqoh, penyembelihan qurban, kita dihadapkan pada satu suasana yang mengharuskan berhadapan dengan banyak orang dan banyak kepentingan, terutama ketika kita membagikan hak-hak mereka itu. Memang pembagian dan perhatian selalu di perioritaskan kepada kedua golongan diatas, namun sering kali pada praktek dilapangan, ketika pembagian zakat, shodaqoh, ataupun daging qurban, tidak jarang person panitia terkadang menghardik atau tidak mengindahkan mereka dengan berbagai macam alasan-alasan.

Maka disinilah peranan penyelenggara untuk berbuat arif dalam menjalankan amanah dari Allah, thoh niatan untuk penyelenggaraan itu (baik Pemerintah, Lembaga ataupun Individu) adalah beribadah dan mengharapkan pahala serta ridho Allah; Lha lantas bagaimana bisa diridhoi, jikalau disatu sisi menjalankan perintahNYA dengan memperhatikan Fakir Miskin dan Yatim, namun disisi lain mengabaikan ayat-ayat Allah yang sudah nyata-nyata memerintahkan untuk berbuat tidak semenah-menah kepada mereka yang ditakdirkan menjadi Yatim atau Fakir Miskin.

Pada surat yang lain Allah menegaskan pula siapa-siapa orang yang nyata-nyata beriman dan orang-orang yang hanya mendustakan agama, orang-orang yang hanya ingin dipandang baik, religius oleh masyarakatnya, apalagi perbuatan baik itu hanya karena ada maksud tertentu, ingin diangkat jadi ini dan itu, dan setelahnya mereka orang-orang lemah itu tidak lagi dihiraukan, inilah yang menurut Allah mereka itu orang yang mendustakan agama; ciri-ciri mereka antara lain yang difirmankan Allah :


وقال تعالى : أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ، فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ، وَلا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ.

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?, Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Dalam banyak kasus ada suatu permasalahan sosial kemasyarakatan yang terjadi bahkan dilingkungan yang religi sekalipun; coba kita amati; Ketika orang-orang yang bersetatus sosial mapan, bergelimang harta, Tokoh Terpandang, Pejabat Tinggi, Pengusaha, ketika mengadakan jamuan, selamatan, sarasehan ditempat-tempat yang bisa dibilang mewah, pastinya jamuannya serba wah dan berlebih dan bahkan terkadang terbuang begitu saja, padahal bisa diberikan pada orang-orang yang kelaparan dijalanan. Pada bagian lain ketika orang-orang tadi menyantuni anak Yatim, dipanti ataupun mengundang mereka, di gedung, ataupun dimana saja, pernahkah ditempatkan sebagaimana menempatkan para Tokoh diatas, umpamanya di meja bundar berisi 4 atau 6 orang dengan layanan dan sajian yang sama seperti sang Tokoh? atau pernahkah GEPENG diundang dan diberi jamuan makan semacam itu ? sedangkan mereka adalah termasuk golongan yang bersetatus Fakir Miskin ? Umpama ada tentu hal itu tidak populer dan bisa dihitung jari ...

Dengan berbagai alasan tentu hal itu tentu belum pernah dilakukan; yang banyak adalah mengundang mereka makan bersama, menyantuninya, tapi masih belum setaraf dengan apa yang dilakukan ketika mengundang dan menjamu para Aghniya', dengan alasan lebih memudahkan, lebih merakyat lebih ini dan itu, dibuatnya sajian dengan gelaran tikar, dan semacamnya; Padahal kalau andaikata ditanya, para dhuafa' itu juga ingin makan duduk di meja, bergarpu, dan minum di gelas kristal seperti para Aghniya' para Tokoh, yang mungkin hal itu tidak akan bisa dirasakan meskipun sekali seumur hidup.

Pada zaman Rasulullah, ketika beliau sebagai seorang penguasa, seorang Nabi, seorang yang diagung-agungkan, tentunya beliau mampu berbuat sesuatu apapun menurut keinginan insaniah beliau, tapi Rasulullah tidak melakukan apa yang dilakukan kebanyakan para pemimpin pada saat itu. Satu contoh keadaan yang demikian itu dicontohkan oleh Rasulullah saw. pada suatu saat ketika beliau kedatangan Tokoh-Tokoh Quraisy yang diterangkan dalam sebuah hadis (yang saya maksud pandangan status sosial yang berbeda dan perlakuan terhadap mereka yang dibawah) :

عن سعد بن أَبي وَقَّاص رضي اللَّه عنه قال : كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم سِتَّةَ نفَر ، فقال المُشْرِكُونَ للنَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : اطْرُدْ هُؤُلاءِ لا يَجْتَرِئُون عليْنا ، وكُنْتُ أَنا وابْنُ مسْعُودٍ ورجُل مِنْ هُذَيْلِ وبِلال ورجلانِ لَستُ أُسمِّيهِما ، فَوقَعَ في نَفْسِ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ما شاءَ اللَّه أَن يقعَ فحدث نفْسهُ ، فأَنْزَلَ اللَّهُ تعالى : { ولا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُون رَبَّهُمْ بالْغَداةِ والعَشِيِّ يُريدُونَ وجْهَهُ } [ الأنعام : 52 ] رواه مسلم

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra. Ia berkata : ” Kami berenam bersama Nabi SAW Kemudian berkatalah pemuka-pemuka kaum musyrik : “Usirlah mereka dari sisimu, agar tidak kurang ajar kepada kami.” Saya, Ibnu Mas’ud dan orang dari suku Hudzail, serta Bilal dan dua orang yang sengaja tidak saya sebutkan namanya. Maka tergeraklah dalam hati Rasulullah SAW, apa yang akan terjadi pada dirinya, tiba-tiba Allah Ta’ala menurunkan ayat:

“WALAA TATHRUDIL LADZIINA YUD’UUNA RABBAHUM BIL GHADAATI WAL ‘ASYIYYI YURIIDUUNA WAJHAH”

(Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang selalu berdoa kepada Tuhannya pada waktu pagi dan petang dengan mengharapkan Keridhaan-Nya. {al-An’aam : 52}) (H.R Muslim)

Dan riwayat lain menyebutkan :

وعن أَبي هُبيْرةَ عائِذِ بن عمْرو المزَنِيِّ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ بيْعةِ الرِّضوانِ رضي اللَّه عنه، أَنَّ أَبا سُفْيَانَ أَتَى عَلَى سلْمَانَ وصُهَيْب وبلالٍ في نفَرٍ فقالوا : ما أَخَذَتْ سُيُوفُ اللَّه مِنْ عدُوِّ اللَّه مَأْخَذَهَا ، فقال أَبُو بَكْرٍ رضي اللَّه عنه : أَتَقُولُونَ هَذَا لِشَيْخِ قُريْشٍ وَسيِّدِهِمْ؟ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَأَخْبرهُ فقال : يا أَبا بَكْر لَعلَّكَ أَغْضَبتَهُم ؟ لَئِنْ كُنْتَ أَغْضَبْتَهُمْ لَقَدْ أَغْضَبتَ رَبَّكَ ؟ فأَتَاهُمْ فقال : يا إِخْوتَاهُ آغْضَبْتُكُمْ ؟ قالوا : لا ، يغْفِرُ اللَّه لَكَ يا أُخَيَّ . رواه مسلم .

Dari Abu Hurairah ‘Aidz bin ‘Amr Al-Muzzanniy ra. Dia salah seorang yang ikut dalam Bai’atur Ridwan, ia berkata : “Ketika Abu Sufyan mendatangi majlis rombongan Salma, Shuhaib dan Bilal, mereka berkata : “Sebenarnya pedang-pedang Allah belum selesai untuk memerangi musuh-musuh Allah.” Maka Abu Bakar berkata: “Mengapa kalian berkata seperti kepada tokoh dan pimpinan bangsa Quraisy?” kemudian Abu Bakar mendatangi Rasulullah SAW Dan menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi, kemudian beliau bersabda : “Wahai Abu Bakar, kalau kamu menjengkelkan hati mereka, berarti telah menyebabkan murka Tuhanmu.” Kemudian Abu Bakar menemui mereka dan bertanya “Wahai saudara-saudaraku, apakah aku telah memarahi kalian?” Mereka menjawab : “Tidak, semoga Allah mengampuni kamu wahai saudaraku.” (H.R Muslim)

Pada bagian lain meskipun Rasulullah seorang pimpinan tertinggi disuatu negara, dan sebagai Imam tertinggi pada tatanan agama, beliau lebih memilih bermasyarakat dan berteman dengan orang-orang miskin; dan yang paling dikenal pada saat itu adalah Ahlus Suffah (murid-murid Rasulullah yang tinggal di Masjid Nabawi). Abu Hurairah ra, yang juga termasuk anggota Ahlus Suffah memberikan ilustrasi kondisi para Ahlus Suffah itu sendiri :

Di ceritakan bahwa untuk makan sehari-hari mereka, biasanya para Sahabat yang mampu, mengajak 2 - 3 orang dari mereka kerumah untuk makan bersama keluarga Sahabat tadi, bahkan tidak jarang mereka (Ahlu Suffah) yang tidak makan sampai dua hari. Pekerjaan mereka hanyalah belajar Al Qur'an dan hukum-hukum syariatnya dari Rasulullah, mereka selalu mendampingi Beliau, dan mereka adalah orang yang paling sabar menerima cobaan, kuat lapar, sampai banyak diantara mereka yang mengganjal perutnya dengan batu. Adapun harta mereka, mereka tinggalkan untuk keluarganya, sedang mereka tidak membutuhkan dunia itu dan merekapun tidak pernah mengeluh pada keadaan mereka.

Diceritakan oleh Abu Hurairah ra, suatu hari dia duduk di depan serambi Masjid menunggu Sahabat yang berada, barangkali diajak makan kerumahnya, ketika itu Abu Hurairah belum makan sudah 2 hari, ketika lewat didepannya Saiyidina Abu Bakar, maka Abu Hurairah bertanya tentang sebuah ayat Al Qur'an, setelah dijawabnya maka berlalulah Abu Bakar ra. tidak lama kemudian Saiyidina Umar ra juga lewat didepannya, dan Abu Hurairah menanyakan hal yang sama, dan Umar ra. pun berlalu setelah menjawabnya. Padahal maksud Abu Hurairah bukan karena pertanyaan tentang ayat tadi, tapi karena dia sangat lapar dan berharap diajak kerumah beliau untuk diajak makan.

Dari belakang Rasulullah mengetahuinya, dengan tersenyum dan mengetahui apa yang diinginkan sabahat beliau, maka Rasulullah mengajaknya kerumah dan menjamunya dengan semangkuk susu seraya beliau menyuruh mengundang seluruh Ahlus Suffah untuk minum susu dari tangan Beliau sehingga mereka merasa kenyang semua. Abu Hurairah berkata dalam dirinya, aku tidak melihat susu selain susu semangkok tadi, dan Rasul menyuruhku membagikan kepada mereka Alhus Suffah hingga mereka semua merasa kenyang baru kemudian saya, dan susu yang saya minum itu tak kurang sedikitpun seberti ketika aku melihatnya pertama.

Itulah gambaran kehidupan masyarakat dilingkungan Rasulullah sehari-hari, sedangkan para Sabahat yang lain dari Muhajirin, mereka banyak yang berdagang, sedangkan dari sahabat Ansor banyak yang pertani dan menggarap tanah. Semoga pelajaran ini menjadikan kita bisa peduli dengan lingkungan yang ada disekitar kita, dan kita selalu merusaha menjalankan perintah Allah dan RasulNya serta meninggalkan laranganNya.

[Indeks Artikel]
Home | Profil | Daftar donator | LSES | Berita | Kontak
Visit us Online:  Facebook Youtube
Hak Cipta 2013 LAZIS Sabilillah Malang