Artikel Sabilillah

QURBAN, BUKTI KEPEDULIAN oleh : drh Zainul Fadli, MKes
Ditulis pada 23-11-2011 14:22 oleh Yosman


Di bulan Dzulhijjah yang dimuliakan Allah ini, ada beberapa ibadah istimewa yang tidak disyari'atkan di bulan lain.

Selain perintah melaksanakan ibadah haji, Allah juga mensyari'atkan kepada orang Islam yang memiliki kemampuan agar menyembelih hewqan qurban untuk dibagi-bagikan dagingnya kepada kaum dlu'afa', para fakir miskin, dan orang-orang yang kurang beruntung nasibnya.  Ada dua ayat dalam surat al-Hajj, Allah memerintahkan agar membagikan sebagian daging qurban itu kepada mereka yang sengsara hidupnya dan fakir, baik yang meminta maupun yang tidak memintanya.  Pada ayat 28 dan 36 :

            “maka makanlah sebagian (daging qurban itu) dan berikanlah untuk dimakan orang yang sengsara hidupnya karena fakir”.  

            maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang tidak meminta maupun orang yang meminta”.

            Adanya syari'at qurban ini mengingatkan kita bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang hidupnya belum terbebaskan dari berbagai bentuk kemiskinan.  Mereka masih sering dirundung kemalangan, keterpurukan, dan keterbatasan.  Banyak diantara mereka masih miskin harta, miskin ilmu, dan bahkan miskin akhlaq.

            Orang-orang miskin harta itu, jangankan dapat menikmati makanan yang bermutu dan bergizi seperti daging, bahkan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok sehari-hari saja, mereka masih sering kekurangan. Kepada mereka itulah utamanya daging-daging qurban itu harus dibagikan.

            Banyak pula orang-orang yang miskin ilmu, yaitu mereka yang belum dapat membebaskan diri dari kungkungan kebodohan.  Kemiskinan ilmu ini menyebabkan mereka menjadi terbatas kemampuannya sehingga tidak dapat mengembangkan nalar kreatif untuk meningkatkan taraf hidupnya.  Mereka selalu kalah dalam setiap persaingan di berbagai bidang kehidupan, akhirnya mereka menjadi kelompok yang tertinggal, tersisih dan terpinggirkan.

            Demikian pula kemiskinan akhlaq, masih sangat menggejala di kalangan masyarakat dan bangsa kita ini.  Dari kalangan masyarakat paling bawah (grass root) sampai di kelompok masyarakat paling elit bangsa ini, banyak yang mengalami kemerosotan moral.  Berbagai macam perilaku buruk dan immoral sering kali dipertontonkan tanpa malu.  Sikap-sikap arogan, kecurangan, tindakan manipulatif, kemunafikan sampai kebohongan publik, telah menjadi menu harian di berbagai media pemberitaan.   Bahkan beragam bentuk kemaksiyatan semakin menggejala dan hampir merata di semua lapisan masyarakat kita, dari kawasan perkotaan sampai di pelosok-pelosok pedesaan.

            Oleh sebab itulah maka uluran tangan dari orang kaya kepada yang miskin, kepedulian dari orang-orang pandai dan alim kepada mereka yang masih bodoh dan awam, menjadi tanggungjawab moral dan kewajiban sosial yang harus terus menerus dikembangkan.  Dengan demikian, diantara hikmah paling penting yang dapat kita ambil dari pensyari'atan ibadah qurban ini adalah untuk menumbuhkan sikap saling peduli dan rasa solidaritas di antara sesama manusia (ta'awun).

            Sikap saling peduli ini selalu relevan untuk terus dikembangkan, apalagi bila disadari bahwa memang ada alasan sosiologis dan ekonomis yang telah menjadi ketetapan Allah (sunnatullah).  Seperti kita maklumi bahwa rizqi dan status sosial seseorang tidak selalu sama dengan orang lain.  Allah sengaja membagi rizqi dan menentukan status sosial sebagian orang berbeda dengan sebagian orang yang lain.  Hal ini dimaksudkan agar diantara sesama mereka dapat terjalin hubungan yang , saling memberi dan menerima, ada yang membutuhkan ada yang dibutuhkan, ada yang kelebihan dan ada pula yang kekurangan.  Hal ini disebut dalam surat Az Zukhruuf, 32:

“Akulah (Allah) yang membagi sumber penghidupan bagi mereka (manusia) selama hidup di dunia, dan Aku sengaja meninggikan derajat (status soaial) kepada sebagian dari mereka di atas sebagian yang lain, supaya diantara sesama mereka dapat terjalin hubungan yang baik”.

            Hubungan baik sesuai dengan prinsip ta'awun seperti yang diajarkan oleh Allah itu ialah, adanya saling pengertian dari masing-masing pihak akan posisi dan tanggungjawabnya.  Seseorang yang diberi kelebihan rizqi hendaknya mau berbagi dengan orang lain yang masih kekurangan dan nyata-nyata memerlukan pertolongan.  Orang-orang alim dan pandai harus mau mengajar dan berbagi ilmu pengetahuan kepada mereka yang masih bodoh dan awam. 

            Rasulullah saw pernah mengingatkan kepada ummatnya, khususnya mereka yang diamanati berbagai kelebihan nikmat oleh Allah, agar mau berbagi kenikmatan itu dengan sesama hamba Allah yang lain.  Dalam sebuah hadits riwayat Thabrani dari sahabat Ibnu Mas'ud :

            “sesungguhnya Allah swt memilih beberapa orang hambaNya yang secara khusus diberi berbagai kenikmatan agar dapat dirasakan manfaatnya oleh hamba-hamba Allah yang lain, maka barang siapa yang bakhil (tidak mau berbagi) manfaat itu kepada sesama hamba Allah, maka Allah pasti akan mencabut nikmat itu dari orang tersebut dan mengalihkannya kepada orang lain”.

            Anjuran untuk menumbuhkan sikap saling peduli ini terasa semakin penting, apabila kita mencermati bahwa di tengah-tengah masyarakat saat ini masih banyak  sikap dan gaya hidup yang sangat tidak bersesuaian dengan prinsip ta'awun itu.  Masih banyak orang-orang atau kelompok masyarakat yang gaya hidupnya semakin individualis dan egois.  Mereka tidak memiliki rasa solidaritas dan kepedulian kepada sesama.  Kepentingan-kepentingan pribadi atau kelompok, bahkan kepentingan partai masih sering lebih diutamakan daripada kepentingan masyarakat secara umum.

            Oleh sebab itu patutlah kita memohon kepada Allah swt semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari pensyari'atan ibadah qurban ini. Semoga kita menjadi hamba-hamba Allah yang memiliki rasa solidaritas tinggi serta memiliki rasa empati dan peduli kepada sesama.

            Kepada mereka yang masih dzolim, kepada kelompok masyarakat yang masih arogan, kepada orang-orang kaya yang masih bakhil, juga kita do'akan semoga semua segera mendapat hidayah dari Allah, dapat kembali ke  jalan kebenaran, menjadi hamba Allah yang memiliki rasa solidaritas serta memiliki rasa peduli kepada sesama,  Amiin.

            Dari pensyari'atan ibadah qurban itu, kita juga dapat mengambil beberapa pelajaran penting untuk kemaslahatan kehidupan di bumi Allah ini.  Beberapa persyaratan dan ketentuan dalam pelaksanaan ibadah qurban mengisyaratkan kepada kita bahwa di samping memanfaatkan dan mengkonsumsi daging hewan qurban, kita juga dianjurkan untuk memperhatikan aspek kelestarian dan keseimbangan populasi ternaknya, sehingga tidak sampai terjadi kepunahan.

            Sungguhpun menyembelih hewan qurban merupakan ibadah yang sangat dianjurkan, namun bukan berarti kita boleh melakukannya secara sembarangan dan tanpa perencanaan.  Hal ini dapat kita ketahui dari adanya persyaratan umur bagi hewan yang akan disembelih, yaitu harus sudah dewasa atau mendekati dewasa.  Artinya bahwa secara anatomis dan fisiologis hewan tersebut telah mencapai pertumbuhan yang optimal, sehingga daging yang dapat dikonsumsi juga lebih banyak.  Sedangkan dari aspek reproduksi bahwa hewan yang sudah dewasa tersebut diharapkan telah menghasilkan  keturunan, sehingga ada generasi baru yang akan menggantikan populasinya.

            Juga ada anjuran bahwa jenis kelamin hewan yang disembelih sebaiknya dipilih yang jantan (meskipun tidak ada larangan menyembelih hewan betina sebagai  qurban).  Hal ini kalau diperhatikan, secara anatomis postur tubuh hewan jantan selalu lebih besar dari yang betina, sehingga persentase dagingnya lebih banyak.  Dan dari aspek reproduksi, jumlah hewan jantan yang dibutuhkan untuk menghasilkan keturunan jauh lebih sedikit dibanding yang betina (karena hewan betina yang mengandung dan melahirkan anak-anaknya). Dengan demikian penyembelihan hewan jantan akan lebih kecil resikonya terhadap penurunan populasi .

            Selain adanya persyaratan dan ketentuan tadi, Rasulullah saw juga mensyaratkan bahwa hewan-hewan yang akan disembelih itu haruslah bebas dari segala macam cacat dan penyakit yang dimungkinkan dapat menular kepada manusia (penyakit zoonosis).  Hal ini dimaksudkan untuk melindungi  konsumen agar jangan sampai tertular oleh penyakit berbahaya akibat mengkonsumsi makanan asal hewan yang tidak sehat (food borne disease).  Lebih bermakna lagi karena yang mengkonsumsi daging qurban itu sebagian besar adalah kaum dlu'afa' yang dalam kesehariannya mereka sangat jarang mendapat kesempatan menikmati makanan bergizi seperti daging itu.

            Beberapa bentuk kecacatan dan penyakit pada hewan yang dilarang oleh Rasulullah untuk disembelih antara lain, buta, pincang, penyakir yang nyata, dan hewan yang kurus.  Kalau kita pelajari dari aspek kesehatan masyarakat veteriner,  maka gejala-gejala yang disebut oleh Rasulullah itu mengindikasikan berbagai penyakit zoonosis yang dapat menular ke manusia.

  1. Buta merup salah satu gejala penyakit Infectious Keratitis (pink eye, infectious Opthalmia).  Disebabkan oleh bakteri Hemophilus bovis, dapat menyerang : sapi, domba, kambing.  Dapat menular ke manusia.
  2. Pincang merup gejala adanya penyakit :  Mulut & Kuku (Apthae epizootica);  Black leg (radang paha); Tetanus (Lock Jaw);  dll. Yang dapat menular ke manusia
  3. Adanya gejala penyakit yg nyata : >Rabies; Anthrax; Malignant Edema (gas gangrene); Botulismus ; Listeriosis (circling disease); Tuberculosis (TBC); Dll. Semua dapat menular ke manusi
  4. Kondisi yang sangat kurus, disamping merup indikasi adanya berbagai penyakit, juga tidak dapat memenuhi tujuan utama kurban, yaitu untuk dibagikan dagingnya.

            Dengan demikian kita dapat memahami bahwa syari'at Islam ini sangat memperhatikan berbagai aspek yang menyangkut keselarasan dan kemaslahatan hidup dari berbagai komponen ekosistem di bumi ini, baik kesejahteraan manusianya maupun kelestarian hewan-hewan ternaknya.

            Pada akhirnya marilah kita memperhatikan peringatan dari Allah swt tentang esensi penyembelihan hewan qurban.  Dinyatakan dalam surat Al Hajj ayat 37 :

            “Allah tidaklah menerima ibadah qurban itu hanya didasarkan pada banyaknya daging atau banyaknya darah yang tertumpah, tetapi yang diterima oleh Allah adalah sikap taqwa yang mendasari ibadah qurban itu dari kamu sekalian”.

            Dengan demikian esensi dari ibadah qurban itu tidak lain adalah untuk mengaktualkan dan membuktikan ketaqwaan seseorang kepada Allah swt.  Orang-orang yang bagus mutu taqwanya akan rela mengorbankan apa saja yang dimilikinya untuk Tuhannya (Allah swt).  Sikap semacam inilah yang pernah dicontohkan oleh orang yang sangat dikasihi Allah yaitu Nabi  Ibrahim as.

            Melaksanakan ibadah qurban pada hakikatnya adalah menapaktilasi dan meneladani pengorbanan yang pernah dilakukan oleh para kekasih Allah.  Begitu besarnya rasa cinta dan ketundukan nabi Ibrahim beserta keluarga kepada Tuhannya, maka seberat apapun perintah yang diterimanya siap dilaksanakan tanpa sedikitpun keraguan (termasuk ketika diperintah untuk mengorbankan satu-satunya anak kesayangan beliau, nabiyullah Isma'il as.).  Berkat ketulusan dan komitmen penghambaan yang sedemikian luar biasa itu, maka Allah mengganti pengorbanan itu dengan seekor domba dari surga yang gemuk & besar.  Allah menjelaskan bahwa perintah untuk menyembelih anak itu, semata-mata hanya ujian untuk mengetahui kualitas keimanan dan ketaqwaan, -Inna haadzaa lahuwal balaa'ul mubiin-.  Ternyata baginda nabiyullah Ibrahim as. beserta keluarganya dapat melewati ujian maha berat tersebut dan lulus dengan nilai sempurna. 

            Menutup uraian ringkas ini, marilah kita terus membesarkan harapan seraya memaksimalkan ikhtiyar, agar dengan hikmah ibadah qurban ini, mudah-mudahan kita semua dapat mencontoh dan meneladani ketaqwaan para kekasih Allah, sehingga kitapun menjadi hamba yang selalu dikasihi oleh Allah swt. Amiin.

 

[Indeks Artikel]
Home | Profil | Daftar donator | LSES | Berita | Kontak
Visit us Online:  Facebook Youtube
Hak Cipta 2013 LAZIS Sabilillah Malang