Artikel Sabilillah

ASPEK LINGKUNGAN DENGAN NILAI KEISLAMAN oleh : NOOR ATHIROH AS.,S.Si.,M.Kes
Ditulis pada 23-02-2012 10:42 oleh Yosman


Dosen DPK FMIPA-Biologi UNISMA

Seksi Pendidikan dan Dakwah Majelis Ta'lim Ta'miriyah Sabilillah

Islam yang agung tidak bisa dipaparkan dengan gambaran yang indah dan menarik tanpa adanya gambaran yang telah dijelaskan oleh al-Qur'an. Oleh karena itu, kita harus kembali kepada sumber-sumber Islam primer yang murni dan diarahkan oleh para pemikir dan ahli tahqiq. Setiap orang yang berakal pasti mengetahui keutamaan ilmu agama yang disertai dengan pendidikan. Dengan ilmu agama seorang muslim berinteraksi dengan sesamanya secara baik. Oleh karena itu ada saling keterkaitan antara pendidikan dan pengajaran, antara ilmu dan amal, antara materi-materi dengan prinsip-prinsip dan perilaku. Sedangkan sunnah dan sirah Nabi adalah dunia yang bersinar, syarat dengan teladan dan pendidikan. Dengan begitu seorang mukmin memiliki semangat yang tinggi dan tekad yang kuat untuk memenuhi hatinya dengan iman dan rasa yakin, sehingga bisa diharapkan darinya hasil yang bagus dan tercapainya cita-cita umat.

Seseorang yang menggunakan akal dan hatinya dalam memahami sifat-sifat benda apapun di alam semesta ini, bahkan meskipun ia bukan pakar dalam masalah tersebut, akan memahami bahwasanya itu semua diciptakan oleh Sang Pemilik Kebijaksanaan, Ilmu, dan Kekuasaan yang Agung. Islam sebagai agama yang berfungsi menyelamatkan dan membebaskan manusia dari tirani-tirani manusia yang lain. Al Qur-an menyebutkan fungsi ini sebagai minadzulumaati ilannuur (mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya). Pengertian ini mengasumsikan bahwa dari ketidaktahuan manusia akan sesuatu hal dengan menggunakan “aqli” (akal pikiran) dan “naqli” (bereferensi Al-qur'an dan Hadits) akan meningkatkan ilmu pengetahuan dan martabat manusia.

Ulasan ahli tafsir mengenai firman Allah ini merumuskan bahwa ilmu pengetahuan itu memberikan kelebihan kepada manusia. Manusia dikuruniakan akal pikiran, anugerah Allah SWT yang tidak diberikan kepada makhluk lain. Islam sesuai dengan semua aspek pemikiran, kehidupan dan keberadaan manusia. Kesesuaian ini harus dijelaskan dalam setiap cabang disiplin ilmu. Salah satu disiplin ilmu yaitu lingkungan (ekologi).

Hama dan Penggunaan Pestisida

Indonesia merupakan negara agraris, yang sebagian penduduknya adalah petani. Mereka bercocok tanam, merawat dan menjaga tanaman agar hama dan penyakit tidak merusaknya, dengan harapan akan mendapat hasil yang memuaskan. Namun demikian pada setiap usaha pertanian manusia selalu mengalami gangguan oleh pesaing berupa binatang-binatang yang memakan tanaman. Binatang-binatang inilah yang disebut sebagai hama. Pengendalian hama memegang peranan penting dalam hal budidaya tanaman. Hasil panen dari suatu tanaman tidak akan memuaskan jika terserang hama, walaupun tanaman tersebut berada di tanah yang subur, kondisi iklim yang cocok, dan diberi pupuk secara tepat. Akibat dari penyerangan hama ini, kadang tidak hanya kegagalan panen, tapi juga matinya tanaman, sehingga menyebabkan kerugian.

Manusia melakukan budidaya tanaman pertanian bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Secara tidak langsung tanaman juga sebagai penyedia oksigen bagi sistem pernapasan manusia, keindahan dan keasrian. Seiring dengan perkembangan dunia dibidang pertanian yang semakin pesat maka petani berusaha untuk mendapatkan hasil panen yang maksimal dari tanaman yang dibudidayakan. Dampak dari perkembangan sektor pertanian dapat mengakibatkan perubahan pada ekosistem dan adanya hama pengganggu. Petani berusaha keras untuk mengatasi hama pengganggu dengan menggunakan berbagai metode secara fisik dan mekanik.

Cara pengendalian hama yang lebih praktis dan cepat mulai ditemukan yaitu secara kimiawi menggunakan pestisida. Penggunaan pestisida yang berlebihan akan menyebabkan pencemaran lingkungan, sehingga akan menurunkan kualitas kemaslahatan umat manusia. Menurut tausiah NU tentang Pelestarian Hutan dan Lingkungan Hidup menetapkan bahwa mencemarkan lingkungan, baik udara, air maupun tanah, apabila menimbulkan dlarar, maka hukumnya haram dan termasuk perbuatan kriminal (jinayat). Hal ini didukung pula oleh Pemerintah Republik Indonesia bahwa kita wajib menegakkan supremasi hukum.

Sambungan

Warga NU dan seluruh elemen masyarakat wajib memperjuangkan pelestarian lingkungan hidup (jihad bi'iyah) dengan mengembangkan gerakan menanam dan merawat pohon, mengamankan hutan, melakukan konservasi tanah, air dan keanekaragaman hayati, membersihkan sungai, pantai, dan lingkungan.

Berdasarkan fatwa tersebut maka perlu digalakkan program konservasi lingkungan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meminimalisasi dampak kerusakan lingkungan akibat pestisida. Salah satunya dengan pengendalian secara hayati (biologis). Pengendalian hayati merupakan salah satu mekanisme yang dimiliki oleh ekosistem yang sangat menentukan keseimbangan populasi hama dengan memanfaatkan musuh alami. Oleh karenanya keberadaan musuh alami harus dipertahankan dan diberi kesempatan untuk melakukan fungsinya dengan baik sehingga penggunaan pestisida dapat ditekan. Usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keanekaragaman musuh alami adalah dengan menciptakan habitat yang ada pada tanaman yang disukai musuh alami. Pembuktian tentang kontribusi predator (musuh alami) pada lingkungan telah banyak diteliti secara ilmiah. Penelitian bertujuan untuk membuktikan kekuasaan ayat-ayat Allah, dengan mengintegrasikan ilmu Kauliyah dan Kauniyah.

Pembuktian Kauliyah Melalui Kauniyah

Kauliyah adalah sesuatu yang tertulis, merupakan wahyu resmi yang diturunkan kepada Rasul terjamin kebenarannya. Allah menganugrahi kita Al-Qur'an dan As-sunnah yang keduanya jelas sesuatu yang Kauliyah. Itulah Ilmu yang langsung dari Allah dan rasul-Nya, yang sudah tersurat untuk kita pelajari. Kauniyah dapat dikatakan ilham, proses berpikir, eksperimen. Ilmu ini bisa didapat oleh siapa saja tidak peduli kafir atau mukmin karena tidak ada hubungannya dengan surga ataupun neraka. Untuk mencapai suatu kebenaran ilmu ini dibutuhkan proses terlebih dahulu, baik itu dengan berpikir, bereksperimen atau lain sebagainya. Oleh karena itu ayat-ayat kauniyah merupakan sarana dalam menjalankan kehidupan kita. Terkadang pada ayat kauniyah disampaikan juga sesuatu yang kauliyah. Ilmu kauliyah tanpa disertai ilmu kauniyah maka orang tersebut akan lumpuh, rendah, seperti tau tetapi tidak dapat berbuat apa-apa. Sedangkan jika ilmu kauniyah tanpa disertai ilmu kauliyah maka orang tersebut akan tersesat tak tau arah dan dapat merusak tatanan yang ada.

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya allah maha perkasa lagi maha bijaksana”. (QS Luqman : 27).

Eksperimen penelitian yang telah dilakukan oleh Athiroh dkk., (2007) yaitu mengamati berbagai serangga predator (musuh alami) yang berpreferensi (tertarik) pada kombinasi berbagai tanaman terong-terongan (familia Solanaceae). Usaha ini dilakukan dalam rangka mengaplikasikan mikrohabitat.

Manusia sebenarnya mampu mewujudkan dan mengelola lingkungan yang bersih serta bumi yang hijau. Pertama, manusia memang dilahirkan dalam keadaan 'fitrah', tidak memiliki apa-apa namun cenderung bersih. Filosofi ini seharusnya membawa manusia pada kedewasaan berpikir dan bersikap. Kedua, penanggulangan masalah lingkungan dan hijaunya planet tidak sekedar persoalan sampah dan menanam pohon, tetapi merupakan rangkaian kesadaran manusia dalam memelihara kelestarian hidup mereka di bumi. Hijaunya pohon dan bersih lingkungan, akan mempunyai dampak positif bagi pertumbuhan warga negara yang sehat. Polusi dan pencemaran adalah penyakit, kehijauan ekosistem dengan vegetasi hijau yang cukup akan mampu menciptakan keseimbangan atas pencemaran yang dilakukan oleh manusia (dari berbagai sumber referensi).

 

[Indeks Artikel]
Home | Profil | Daftar donator | LSES | Berita | Kontak
Visit us Online:  Facebook Youtube
Hak Cipta 2013 LAZIS Sabilillah Malang