Artikel Sabilillah

INDONESIA MAJU JIKA TIGA PILAR KUMPUL Oleh : DRS. H. NUSRON WAHID, M.Si.
Ditulis pada 04-05-2012 09:03 oleh Yosman


Di dalam manaqibnya Syaikh Abdul Qodir Al Jaelani mengatakan, tidak ada khalifah yang akan bisa mengatur sistem pemerintahan kecuali ada tiga serangkai. Yakni 'lmal ulama (para alim ulama), para pengambil keputusan, dan para politisi. Sama halnya dengan sekarang, semuanya telah berkumpul.

Ini menjadi representasi dari apa yang disampaikan Syaikh Abdul Qodir Al Jaelani  itu. Bahkan, kalau perlu harus ada pengajian yang jamaahnya adalah para anggota badan anggaran (banggar) DPR dan pimpinan proyek (pimpro). Itu dilakukan biar ada sistem kontrol dan peringatan pada mereka. Karena sumber permasalahan itu lebih banyak pada mereka.

Di Komisi XI (komisi keuangan negara) misalnya. Uangnya banyak, tapi semakin banyak uang semakin banyak masalah. Lain lagi dengan Komisi III (komisi hukum), semakin banyak masalah, juga semakin banyak uangnya.

Di sinilah perlu sebuah karakter bangsa. Kenapa perlu karakter bangsa? Gus Mus mengatakan sampai kiamat kurang dua hari, kebangkitan ekonomi di Indonesia tidak akan terjadi. Itu terjadi jika tidak adanya karakter bangsa dan kesalehan sosial. Oleh karenanya di sinilah pentingnya ada karakter bangsa dan kesalehan sosial.

Apa sih sebenarnya karakter bangsa dan kesalehan sosial itu? Ada buku menarik yang saat ini beredar yang membahas tentang keadaan Indonesia saat ini. Yang sangat gencar dan ramainya kompetisi di dalam sebuah negara. Jika menurut TNI mungkin kompetisi adalah ibarat sebuah perang. Layak jika ada filosuf China Tzun Zu mengatakan; kenali dirimu, kenali karaktermu, kenali musuhmu, maka kenali juga cuacamu. Itu semua bisa jadi iklim geopolitik saat ini adalah kondisi statistik sosial saat ini.

Maka dari itu, kenali juga karakter Indonesia saat ini. Apa sih Indonesia itu. Indonesia ini Jawa, China, Padang, Madura, Islam, atau apa? Apa kalau tidak Islam tidak Indonesia? Orang mengatakan Indonesia itu Pancasila. Namun apa sih sumblemasi dari Pancasila tersebut. Ma huwa Indonesia? Banyak orang mengatakan konsepsi Indonesia. Orang Jawa mengatakan Indonesia itu berasal dari kata indische, mondische. Kalo saya mengatakan bahwa karakter bangsa Indonesia itu berasal dari madzab anands. Kalo dalam Islam madzab ini bisa jadi seperti madzab Imam Syafi'i yang banyak dipakai oleh masyarakat.

Indonesia memang sublemasi dari empat hal. Jika kita bicara karakter Indonesia bisa jadi ini adalah basis atau unsur yang pertama adalah Indonesia mengandung unsur dan kuat dalam tradisi Islam kita tidak akan pernah bisa terlepas dari tradisi karakter Islam. Yang kedua Indonesia tidak pernah terlepas dari karakter berbasis Hindu, yang ketiga kita tidak terlepas dari karakter Asia euronesia yang memang banyak sejak jaman pertengahan melakukan kunjungan perdagangan dan kunjungan lain ke wilayah Indonesia, salah satunya yakni dari Cina Laksamana Cheng Ho.

Maka tidak muskil jika banyak bangunan-bangungan yang masih bercirikhas kan Asia – Cina. Oleh karena itu hingga saat ini kita pasti mengenal adanya Bakmi, Bakso, Bakwan. Mangkok yang kesemuanya itu berasal dari bahasa cina.  Dan itu tidak akan terlepas dari kehidupan kita. Dan yang keempat dan yang terakhir masuk ke Indonesia ini adalah Kristen. Yang berasal dari masuknya para penjajah ke Indonesia.

Oleh karenanya inilah sumblemasi bangsa Indonesia yang ada. Dan Soekarno pernah mengatakan bagaimana cara kita bisa menyatukan empat karakter besar bangsa ini. Karena ini sangatlah penting. Sebab Indonesia hari ini memasuki masa-masa keemasan. Lepas dari 10 sampai 50 tahun kedepan akan kita lewati masa keemasan itu. Kenapa, karena cuaca dan masa saat ini sangat mendukung. Karena apa ada beberapa hal yang terjadi yakni yang pertama Timur tengah saat ini konflik, Eropa mengalami krisis. Sehingga orang kaya nomor 2 di Indonesia yang ahli program mengatakan dunia sedang bergerak ke benua timur. Yang sudah bisa dipastikan semua akan ke timur.  Tidak lain dan tidak bukan yakni Cina, Vietnam, dan Indonesia.

Begitu orang lari ke negeri Cina semua pasti akan terpuaskan. Semua hal tersediakan di Cina. Tidak ada barang yang tidak ada di Cina. Karakter inilah yang semakin membuat Cina kian kompetitif. Semua pembangunan berjalan semua hal yang tidak mungkin menjadi mungkin di Cina. Karane Cina mempunyai karakter.  Cina mempunyai prinsip sampai hari ini yang tidak bisa dicontoh oleh negara lain adalah, Cina selalu menghormati yang lebih tua, menghargai sesama, dan menyayangi yang lebih muda. Maka tidak salah jika Rosulullah SAW bersabda uthlubil ilma wallu bissiin   (carilah ilmu sampai ke negeri China). Hingga kita bisa melihat saat ini pertumbhuhan ekonomi yang paling tinggi di dunia adalah Cina. Macam-macam barang bisa jadi diluar negara mahal namun, di Cina segala barang bisa diciptakan dan dijual dengan harga murah. Jarum, Kain batik, sepatu bahkan hingga hasil olahanm pertanian.

Ketika Cina, sudah tidak mampu lagi, maka orang akan melirik India. Karena pendudukan paling besar di dunia. India juga berpengaruh di Asia tenggara. Singapura, Filiphina bahkan Malaysia tidak ada apa-apanya. Di Vietnam etoskerjanya sangat luar biasa. Orang membuat sepatu misalnya. Jika di Indonesia, dalam empat hari mampu membuat dua sepatu karena terlalu banyak istirahat. Tapi di Vietnam, dalam satu hari bisa menyelesaikan lima sepatu. Beda kalau di Indonesia, di Indonesia banyak istirahatnya. Namanya ishomatel alias istirahat, sholat, makan plus telepon.

Maka inilah yang menyebabkan hilangnya karakter di bangsa ini. Kenapa penting sekali karakter demi kemajuan bangsa. Di sinilah, kita perlu menanyakan bagaimana kita membangun konsesi diri dan mengembalikan karakter yang sudah hilang ini. Tadi sudah saya sampaikan bahwa sudah berkumpul tiga serangkai tadi. Ada ulama, pengambil kebijakan, dan wasiyatul muluk. Yang sudah digagas oleh Syaik Abd. Qodir Jaelani, berfungsi tidaknya tiga serangkai itu dapat menjadikan karakter dan yang paling penting kebangkitan ekonomi.

Cara membangun karakter yang sudah ada watak, tabiat, perilaku yang terbentuk dari sublemasi-sublemasi itu. Dan pintu-pintu tadi yang menjadikan cara pandang, perilaku, cara mengambil keputusan bergantung dan sesuai dengan falsafah pancasila. Jika cara pandang, cata bertindak tidak ada dan bahkan muncul keberpihakan dalam menentukan keputusan negara, maka karakter kita tidak tersublemasi oleh kebangsaan dan keindonesiaan kita yang mungkin hanya sepotong-sepotong saja.

Bagaimana cara menggerakkan ekonomi saat ini? Satu, kekuatan ekonomi kita yang tidak terbatas, sumber daya alam. Ini dikontrak sejak 40 tahun yang lalu untuk hanya dijual kepada negara-negara tertentu.

Faktanya Indonesia adalah eksportir ke dua setelah Qatar dan Irak. Tetapi karena Indonesia negara agraris. Indonesia butuh pupuk dan pupuk butuh gas. Pabrik pupuk Indonesia ada dua yang bangkrut. Kutim dan Kujang karena kekurangan gas. Ini efek domino, jika tidak ada pupuk maka petani juga akan merasa kerepotan. Saat ini gas dikuasi oleh exon dll dari luar negeri. Semua ini karena keputusan politik 40 tahun yang lalu.

Yang kedua, human capital tidak terdidik. Kelas menengahnya salah satu yang membuat pertumbuhan ekonomi di Indonesia tidak optimal, tidak ada kelas menengah yang konsen kepada rekayasa ekonomi. Semuanya konsen pada politik. Hingga terjadi booming participated. Kebanyakkan masuk kepada PNS, DPRD atau bahkan membuat LSM. Tidak ada yang mau membuat pabrik, kembali ke desa mengolah sawah, industrialisasi sawah dan pertanian.

Yang ketiga, Indonesia pasar yang kuat tapi selalu menjadi show room-nya negara-negara lain. Kita bisa bangkit jika kita bisa mengubah mindset kita semua. Saat ini yang terjadi istri-istri kepala dinas atau PNS selalu mengejar penampilan. Sepatu harus merk tertentu, HP harus merk tertentu, dan jika shooping harus juga ke daerah tertentu untuk mengejar barang-barang dengan merk tertentu pula. Semua mindset itu harus diubah menjadi produktif.

Peta kemiskinan, human capital kita adalah karena miskin dan tidak terdidik. Intinya, ulama memberi masukan jelas, pemerintah melaksanakan dengan tegas dan jelas, serta dilegitimasi oleh DPR dengan baik dan jelas pula. Maka Insya Allah kebaikan dan meningkatnya karakter menjadikan meningkat pula keadaan masyarakatnya. (*)

 

* Disarikan dari Pengajian Eksekutif di Balai Kota Batu

[Indeks Artikel]
Home | Profil | Daftar donator | LSES | Berita | Kontak
Visit us Online:  Facebook Youtube
Hak Cipta 2013 LAZIS Sabilillah Malang