Artikel Sabilillah

SUKSES DALAM USAHA DAN IBADAH Oleh : Noor Shodiq Askandar (Dekan Fak. Ekonomi Unisma)
Ditulis pada 05-09-2012 14:00 oleh Yosman


Bapak Noor Shodiq Ask yang saya hormati. Saya adalah seorang pedagang bakso dan saya bangga dengan apa yang saya lakukan sekarang. Diantara tujuh bersaudara, hanya saya yang jadi pengusaha. Kenapa demikian, karena saudara saya yang lain ikut orang alias jadi karyawan.

Akan tetapi disisi lain, saya kadang bingung, karena dalam beberapa waktu karena kecapekan saya justru meninggalkan ibadah kepada Allah swt. Hal yang ingin saya tanyakan : Bagaimana agar usaha saya dapat berhasil, tetapi ibadah saya juga tetap dapat dilakukan dan jika bisa makin baik. Hamdani – Lowokwaru Mas Hamdani yang saya banggakan. Dalam usaha itu tidak bisa langsung sukses tanpa melalui proses. Kalaupun ada, tentu bisa dihitung dengan jari karena ada yang namanya keberuntungan. Produk saja ketika diedarkan di pasar harus melewati beberapa tahapan, yang dalam ilmu ekonomi disebut “product life cyclus” atau dalam bahasa Indonesia biasa diistilahkan sebagai daur hidup sebuah produk. Dimulai dari proses mengenalkan yang tentu butuh waktu lebih lama dengan biaya yang juga lebih besar. Jika sudah cukup dikenaloleh pelanggan, pasar produk akan mulai mengalami pertumbuhan sampai pada puncak tertinggi. Produkpun dikenal dimana-mana, dan tingkat omzetnya juga besar. Pada tahapan ini, orang biasanya lengah dan ini akan mengakibatkan penurunan. Disinilah diperlukan keteguhan untuk terus melangkah, kecermatan untuk selalu meneropong keinginan pelanggan. Kreativitas dan inovasi sangat diperlukan agar tetap dapat memenangkan persaingan. Tanpa dua hal tersebut, akan sulit untuk dapat bertahan, bahkan mungkin bisa gulung tikar. Contoh sederhana, ketika mbah Marijan dalam puncak ketenaran, produk “roso-roso” sangat dikenal. Tetapi ketika beliau wafat dan belum muncul kreativitas dan inovasi yang sepadan, kini kita juga mulai tidak ingat minuman tersebut. Kondisi ini tentu kurang baik bagi usaha perusahaan. Hal yang tidak kalah penting dalam kehidupan kita adalah bagaimana agar usaha yang kita jalankan tetap dapat berkembang, sementara disisi lain ibadah kita juga tetap jalan. Keseimbangan ini yang sangat dibutuhkan oleh semua mahluq Allah swt., (kebahagiaan lahir batin). Sukses usaha di dunia, tetapi juga bahagia di akhirat. Itulah tujuan akhir setiap ummat manusia. Allah swt telah memerintahkan dalam surat al jumu’ah ayat sepuluh “Dan jika telah ditunaikan sholat jum’at, maka segeralah menyebar di muka bumi ini dan carilah karunia Allah”, tetapi dalam ayat lain mengingatkan ummat manusia : Ini adalah karunia dari Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau aku malah kufur”. Jadi sesungguhnya yang dicari ummat manusia itu dalam berusaha (apapun itu), seharusnya niat untuk bekal ibadah agar memperoleh keduanya. Kalau usaha yang dilakukan akan semakin mendekatkan diri kepada Allah swt., maka harus diteruskan dan dikembangkan dengan baik. Akan tetapi jika yang terjadi justru menjauhkan kepada dzat sang maha rahman dan rohim maka layak untuk ditinggalkan. Mas Hamdani yang saya hormati. Dunia memang telah dinashkan sebagai perhiasan yang akan disenangi oleh setiap orang. Gemerlap dunia seolah dapat melupakan semua hal dan menjadi satu satunya tujuan hidup. Tentu pandangan ini salah, karena manusia akan hidup lagi setelah kehidupan dunia berakhir, sehingga kitapun harus mempersiapkan dua-duanya. Mulai hari ini mari kita tanamkan keyakinan dan kuatkan usaha untuk memperoleh kehidupan dunia sebagai sarana antara kebahagiaan di akhirat kelak, berupa “jannatun na’im”. Wallahu a’lam bisshowab (LAZIS:2012)
[Indeks Artikel]
Home | Profil | Daftar donator | LSES | Berita | Kontak
Visit us Online:  Facebook Youtube
Hak Cipta 2013 LAZIS Sabilillah Malang