Artikel Sabilillah

Mari Menang Sejati
Ditulis pada 06-09-2012 08:23 oleh Yosman


Dalam Al-Qur'an sering kali Allah mengabarkan kepada kita cerita-cerita para nabi. Namun, tentu Allah tidak mengabarkannya semata-mata ingin bercerita. Di balik cerita dan kisah itu ada banyak pelajaran yang mau disampaikan pada kita.

Di antara sekian cerita para nabi as., cerita Nabi Musa as. dan Fir’aun menarik minat saya untuk mendalaminya. Allah berkisah bahwa Nabi Musa diperintahkan untuk mengajak Fir’aun ke jalan yang benar. Semua ajakan disampaikan kepada Fir’aun. Fir’aun tetap saja menentang, dia dan para pengikutnya malah berkata: 

 

Maka himpunkanlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya telah menang orang yang kuat pada hari ini (qad aflaha man-ista’la) (Thaha: 64).

Dalam bayangan Fir’aun dan pengikutnya, kemenangan hanyalah merupakan milik siapa saja yang superior, qad aflaha man-ista’la. Kemenangan diukur berdasarkan superioritas, entah itu dalam harta, jabatan, kekuatan fisik, dan segala apapun yang berbau dunia.

Dengan kekuatan para penyihirnya, Fir’aun rupanya mengganggap dirinya mampu mengalahkan siapapun. Namun, apa yang terjadi? Banyangan Fir’aun meleset. Superioritas dalam keduniaan tidak membantu. Fir’aun salah mengidentikasi sebab kemenangan.

Nabi Musa as. muncul sebagai pemenang dalam pertarungan dengan para penyihir. Allah berkata kepada Musa, “Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya itu akan menelan apa yang mereka (para penyihir Fir’aun) perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang” (Thaha: 69). Ya, Allah kembali menegaskan bahwa sihir dan apapun superioritas tidak akan pernah mampu memberikan kemenangan:

 

“Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang” (Thaha: 69).

 

Kalau begitu apa yang menjadi rahasia kemenangan Nabi Musa as.? Rahasia kemenangan Nabi Musa bukan pada superioritas seperti yang diduga oleh Fir’aun. Allah memberikan kemenangan kepada Nabi Musa as. karena Dia hanya menjanjikan kemenangan bagi siapa saja yang menyucikan dan membersihkan dirinya, qad aflaha man tazakka, bukan qad aflaha man-ista’la. Allah berfirman: 

 “Sesungguhnya telah menang orang yang membersihkan diri (qad aflaha man tazakka) dan  dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat” (Al-A’la: 14-15)

Maksud dari tazakka atau menyucikan diri adalah membersihkan diri dari kotoran dunia yang dapat mencegahnya dari mengingat akhirat. Kemenangan hanya merupakan milik orang yang menyucikan dirinya dari segala kecintaan dan keterkaitan dengan dunia. Kemenangan merupakan milik orang yang selalu berdizkir menyebut nama Allah swt. dan rajin melaksanakan shalat dengan penuh khusyu’.

Jadi, kemenangan kita sebagai manusia bukan dengan memperkaya diri kita dengan nilai-nilai keduniaan, melainkan justru dengan kembali kepada diri kita sendiri, dengan membersihkannya dari kecintaan kepada dunia. Presiden Iran Ahmadinejad pernah diminta untuk membuat bom nuklir agar bisa menandingi dan melawan kekuatan super yang selalu menindas bangsa lemah di dunia. Menanggapi permintaan itu, Ahmadinejad dengan penuh keimanan, menjawab, “Kami memiliki kekuatan yang melibihi daya ledak bom nuklir dan mampu mengalahkan kekuatan apapun. Kekuatan itu adalah keimanan dalam diri setiap orang Muslim”.

Di momen Ramadan ini, mari benar-benar kita cari makna kemenangan secara hakiki. Yakni kemenangan sejati berupa kearifan sosial dan spiritual untuk menuju kemenangan yang seimbang di Lebaran nanti, yakni kemenangan sosial dan kemenangan spiitual. (*)

 

[Indeks Artikel]
Home | Profil | Daftar donator | LSES | Berita | Kontak
Visit us Online:  Facebook Youtube
Hak Cipta 2013 LAZIS Sabilillah Malang