Artikel Sabilillah

Makna Hari Raya Qurban
Ditulis pada 20-09-2014 01:33 oleh Mr. Administrator


ADALAH Idul Adha yang mana selalu menjadi salah satu titik ibadah sosial yang secara harfiah dan nyata bisa dan harus selalu dapat dirasakan oleh berbagai kalangan.

Tidak hanya tua, muda, miskin kaya dan bahkan walaupun tanpa agama karena keikhlasan dan karena sikap kepedulian semua bisa mera- sakan hasil dan manfaat dari Qurban. Bisa jadi lebih dari 3 kg atau seminimal mungkin 2,5 kg daging sapi maupun kambing. Sejak tersembelihnya “Ismail” oleh aya- handa Ibrahim, seorang nabi yang sangat alim dengan putranya yang sangat ikhlas yang kelak juga menjadi utusan Allah, men- jadi ibadah yang saat ini menjadi salah satu cara untuk semakin mendekatkan diri dan menjadikan titik keikhlasan ketika seorang bocah berubah menjadi seekor domba untuk diqurbankan. Sesuai dengan yang disampaikan oleh KH Basori Alwi Murtadho, salah satu sesepuh Yayasan Sabilillah secara detail didalam buku panduan Qurbannya. Yakni sebagai berikut: 1. Qurban artinya hewan yang disembelih untuk pendekatan diri kepada Allah dengan niat karena-Nya pada hari Idul Adha dan tiga hari tasyrik (11, 12 dan 13 Dzulhijjah) 2. Hewan Qurban hanyalah domba, lembu dan onta. Tidak sah selain tiga tersebut. 3. Permulaan waktu penyembelihan adalah setelah shalat Idul Adha dan khutbahnya berakhir pada tanggal 13 Dzulhijjah sebe- lum waktu maghrib. 4. Umur Qurban: a. Bagi domba / Kibasy genap setahun ke atas atau telah tanggal giginya. b. Bagi kambing kacangan (Bukan domba) adalah genap dua tahun keatas c. Bagi lembu genap dua tahun ke atas d. Bagi onta genap lima tahun ke atas 5. Tidak cukup berkorban dengan hewan yang tidak berotak atau bersumsum. Ini tampak pada kekursan yangs angat. Tidak cukup juga yang putus sebagian ekornya atau putus telinganya dengan nampak jelas, sekalipun sedikit. Juga yang timpang kakinya, rusak mata sebelah dan nampak jelas sakitnya. Tidak mengapa yang robek telinganya.
HUKUMNYA 6. Asalnya untuk Nabi Muhammad SAW wajib untuk umatnya sunnat muakkad bagi setiap orang dan sunnat kifayyat bagi satu keluarga 7. Qurban bagi seseorang bisa berubah
menjadi wajib jika dinadzakarkan. Contoh Nadzarnya: - Aku bernadzar akan berqurban pada Idul Adha ini. - Kambing ini kunadzarkan untuk qurban Kedua contoh ini adalah bentuk nadzar hakiki. Adapula yang hukumnya sama dengan nadzar walaupun tidak disebutkan perkataan nadzarnya, seperti: - Hari ini aku akan menyembelih qurban - Kambing ini kujadikan qurban - Aku akan membeli kambing untuk qurban - Menjawab pertanyaan: “Untuk apa kambing itu? Jawab “Untuk qurban” - Mengucapkan niat waktu menyembelih qurban dengan lisan: “Aku berniat me- nyembelih qurban karena Allah”. Tanpa menyembut perkataan sunna sesudah perkataan qurban (yakni qurban sunnat) Contoh – contoh seperti diatas adalah bentuk-bentuk dari nadzar hukmi. Hukumnya sama dengan nadzar hakiki. Nadzar hakiki atau nadzar hukmi menyebabkan hewan qurban menjadi qurban wajib. 8. Qurban sunna sebagian dagingnya boleh dimakan oleh sipengqurban dan orang kaya. Kedua orang ini hanya boleh makan dan memanfaatkannya. Tidak boleh memi- likinya. Karena itu tidak boleh menjualnya, menukarkannya dengan barang lain atau menjadikannya sebagai ongkos penyem- belihan. Begitu pula mengenai kulitnya. 9. Qurban sunna tidak sah kalau sebagian dagingnya yang mentah tidak diberikan kepada si fakir atau si miskin walaupun hanya sedikit. Tetapi yang terbaik diberi- kan semua atau sebagian besar kepada fuqoro dan masakin. 10. Qurban wajib seluruhnya wajin diberi- kan kepada fuqoro masakin sebagai milik. Artinya mereka boleh makan, memanfaatkannya dan menjualnya. Bagi pengqurban dan orang kaya haram ikut memakan dan memanfaatkannya 11. Jalan keluar agar supaya status qurban itu tetap sunnat, seseorang yang me- nyebutkan qurbannya agar menambah dengan perkataan sunnat, misalnya “Ini qurban sunnatku, aku akan berqurban sunnat, “aku wakilkan qurban sunnat ini penyembelihannya padamu. Waktu dit- anya panitia “Qurban siapa ini..?”Jawab: Qurban sunnatku (lihat Ianathuth Tholibin juz II hal 331 baris ke 17 dari atas tentang pengucapan niat dan kita Bughyatul musytarsyidin hal 258)
MEWAKILKAN 12. Boleh dan sah orang mewakilkan kepada orang lain yang Islam untuk membeli kamb- ing, menyembelih dan sekaligus meniatkan berqurban untuk mewakilkan tadi. Boleh dan sah juga pengqurban meniatinya waktu membeli kambing, kemudian me yerahkan penyembelihannya kepada orang lain sekalipun yang diserahi ini tak
diberi tahu, bahwa itu kambing qurban. 13. Jika orang menyerahkan / mengirimkan qurbannya kepada panitia. Sebaiknya diniati sendiri terlebih dahulu. Contoh terlebih dahulu: - Aku berniat qurban dengan kambing ini karena Allah” (Kalau diniatkan hanya dalam hati) “Aku berniat qurban sunnat dengan kamb- ing ini karena Allah,” (Kalau diniatkan di dalam hati dan diucapan dengan lisan) 14. Sah seseorang mengqurbani keluar- ganya yang nafkah hidupnya menjadi tanggungnnya tanpa seijin mereka, baik mereka masih hidup ataupun sudah meninggal 15. Seseorang sah mengqurbani orang lain yang bukan keluarganya hanya den- gan seijinnya dalam keadaan ia masih hidup atau wasiatnya dalam keadaan yang diqurbani sudah wafat. Mengqur- bani orang lain tanpa seijin atau tanpa wasiahnya adalah tidak sah sebagai qurbannya yang mengqurbani dan yang diqurbani, jelasnya masing-masing tidak memperoleh pahala.
QURBAN PATUNGAN / KOLEKTIF 16. Seekor kambing sah menjadi qurban hanya seorang pengqurban. Tidak sah dipatung sebagai qurban oleh dua orang ke atas. 17. Seekor onta atau lembu sah dijadikan qurban patungan / kolektif hanya oleh tujuh orang yang berarti masing-masing sepertujug bagian. 18. Berpatungan kambing qurban oleh dua orang ke atas tidak sah sedangkan me- matungkan “pahala qurban untuk orang lain walaupun banyak hukumnya sah dan seluruhnya memperoleh pahala qurban itu. Contoh qurban patungan: - A dan B berserikat membeli seekor kamb- ing lantas diqurbankan oleh keduanya. Tidak sah - A dan B berserikat membeli dua ekor kambing dan diqurbankan untuk dua orang tersebut tanpa kejelasan kambing yang mana milik si A dan yang mana kambing milik si B. Tidak sah Contoh mematungkan / menserikatkan pahala: - Seseorang menyembelihy qurban nya dengan niat pahalanya untuk dirinya dan untuk orang lain. Seperti waktu menyembelih ia mengucapkan “Aku niat berqurban sunnat. Untukku dan untuk Fulan atau untuk keluargaku, dan sebagainya. Marilah kita merenung bersama-sama bahwa gelar,pangkat dan kedudukan yang kita sandang dan harta yang kita miliki itu semua adalah titipan dan amanah  Allah semata-mata. Karena itu wajib kita pertang- gung jawabkan nanti kepada Allah di hari kiamat nanti. (*)
 

[Indeks Artikel]
Home | Profil | Daftar donator | LSES | Berita | Kontak
Visit us Online:  Facebook Youtube
Hak Cipta 2013 LAZIS Sabilillah Malang