Berita Sabilillah

Dilema Musafir dan Orang Terlantar

 | dibaca 780 kali


Seringkali masjid, lembaga sosial atau bahkan perorangan menjadi jujugan dari individu ataupun kelompok yang menamakan dirinya musafir. Mulai dari kehabisan perbekalan, kehilangan, kecopetan, ditipu, pelarian atau bahkan diusir oleh keluarga.

Seringkali masjid, lembaga sosial atau bahkan perorangan menjadi jujugan dari individu ataupun kelompok yang menamakan dirinya musafir. Mulai dari kehabisan perbekalan, kehilangan, kecopetan, ditipu, pelarian atau bahkan diusir oleh keluarga. Mungkin ini adalah beberapa alasan yang sering digunakan oleh para individu tersebut. Berbagai macam latar belakang yang disampaikan. Namun, secara umum dan pasti hampir semuanya sama, masalah keluarga, masalah desakan ekonomi untuk mencari pekerjaan atau tanpa tujuan yang jelas. Sejak tahun 2008, perapian ad- ministasi dan standarisasi khu- susnya pemberian bantuan kepada musafir atau orang yang butuh bantuan dalam rangka perjalanan telah dilakukan. Sejalan dengan pemberian bantuan kepada mus- tahik, fakir miskin bahkan keluarga binaan surat resmi dari lingkungan dibutuhkan sebagai pengantar. Khusus bagi musafir yang jelas ketika ia kehilangan atau mem- butuhkan bantuan setidaknya KTP harus ada, jikalau tidak ada maka wajib ia melaporkan kehilangannya itu untuk memperoleh surat ke- terangan dari dan kepada Kepolisian bisa tingkat Polsek atau kalau perlu Polres, Sofian Arief manager pen- dayagunaan menjelaskan. Namun, lagi – lagi saat ini se- makin banyak hal serupa terjadi bahkan hingga bisa dihitung dalam satu bulan akan muncul 7 hingga 10 minimal kasus kehilangan bah- kan orang kehabisan bekal meng- haruskan standarisasi penerimaan keluhan dan pemberian bantuan juga semakin ditingkatkan, jika memang benar – benar kehabisan bekal atau kehilangan maka wajib memiliki surat jalan atau surat keterangan dari kepolisian atau dinas sosial, berikutnya yakni memiliki nomor telepon setidaknya 1 nomor yang dikenal, entah
keluarga, sanak famili, teman atau bahkan tempat kerja’nya. Memang sejak diterapkannya standarisasi seperti ini, seringkali lembaga hanya memberikan ban- tuan untuk konsumsi atau makan setidaknya untuk 1 hari. Karena jelas dengan adanya peraturan yang ada “pasien kasus musafir” itu hanyalah abal – abal atau me- mang sudah menjadi pekerjaannya sehari – hari untuk “menipu” lembaga – lembaga sosial bahkan individu yang tidak pernah me-
ngetahui motif mencari uang de- ngan mengaku sebagai musafir ini. “Dari awal datang sekali kita meminta informasi maka kita juga meminta surat keterangan, tanda pengenal apapun yang ada sebagai pe nguat identitas, nah ketika me- lalui perbincangan itulah investigasi dilakukan, melihat detail cerita bisa diketahui musafir tersebut benar-benar musafir yang kehabisan bekal dan kehilangan atau hanya mengarang cerita untuk mem- peroleh uang saku.
Lalu bagaimana dengan musafir atau mustahik yang memang mem- butuhkan bantuan dan benar- benar kehilangan atau kehabisan bekal..?? Maka, setelah standarisasi penangan di lakukan hal berikutnya ialah mengantarkan musafir tersebut untuk mencari transportasi untuk bisa membawanya pulang, bisa jadi melalui kereta api, bus atau bahkan travel antar propinsi. Kita juga mempunyai rekanan dalam hal transportasi, kita tinggal me- ngantarkan musafir bersangkutan untuk selanjutnya kita belikan tiket kendaraan dan kita berikan uang saku secukupnya hingga ia tiba ditempat tujuan. Namun, lagi- lagi masih saja ada cara yang dilakukan oleh musafir yang abal – abal, jika telah dibelikan tiket, kadang kala tiket tersebut masih saja ia jual alias ia tidak jadi untuk pulang, yaa makanya kita harus sangat teliti dalam pemberian bantuan ini agar tidak sampai salah sasaran. Sofian kembali melanjutkan. Catatan dan form khusus dalam penanganan musafir juga telah disiapkan. Hingga tidak ada hal yang dianggap remeh mengenai pemberian bantuan kepada orang yang kehilangan atau kehabisan bekal. Namun tetap saja celah untuk melakukan trik dan penipuan masih terus saja dilakukan. Lain lagi dengan BAZNAS Kota Malang yang juga merupakan salah satu rekanan dalam penangan musafir terlantar tersebut yang seringkali juga memberikan informasi me- ngenai perorangan atau individu pelaku penipuan yang mengaku musafir atau mualaf, dengan record foto atau video bahwa pelaku sudah pernah meminta (baca: menipu) keberbagai lembaga dan pe r- orangan. Hingga hal inipun jadi salah satu cara untuk tepat mem- berikan bantuan kepada orang yang benar – benar membutuhkan dan tidak sekedar dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. (*Red)



Home | Profil | Daftar donator | LSES | Berita | Kontak
Visit us Online:  Facebook Youtube
Hak Cipta 2013 LAZIS Sabilillah Malang