Syi'ar

BAHAYA MARAH

MARAH, siapa yang tidak pernah marah, hampir semua orang itu pernah marah, dan memang Allah SWT memberikan sifat marah. Dan setiap orang itu berbeda cara marah juga cara menahan amarahnya.

 Hakekat marah itu, sebuah sifat yang Allah SWT berikan, bukan untuk di umbar, tetapi untuk atur dengan baik dan bijaksana, sehingga menjadi penyebab seseorang yang bahagia dan menjadi penghuni surga-Nya. Jika orang marah, pasti ada orang yang dimarahi. Biasanya, orang yang paling sering dimarahi itu adalah lebih rendah (lemah) dari pada sang pemarah. Seorang anak itu biasanya paling sering dimarahi oleh ibu dan ayahandanya. Apa lagi, jika orang tua tidak bi- jaksana dan tidak banyak memiliki bekal ilmu agama yang cukup, maka marah menjadi satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah. Padahal, marah itu menjadi sumber masalah dan petaka bagi sebuah keluarga. Sedangkan seorang istri itu se- ring dimarahi oleh suaminya. Apa lagi seorang suami sedang penat bekerja sepanjang hari. Padahal marah itu justru men- jadikan hubungan suami istri semakin tidak baik (tidak harmonis). Kemarahan kecil, sering menjadi besar jika suami istri tidak bisa menyadari, bahkan sebuah ke- luarga itu harus saling mengalah, bukan saling mengumbar ke- marahan. Kemudian seorang karyawan paling takut dengan kemarahan juragan (bos). Begitu juga dengan bawahan, paling ngeri jika atasanya sedang marah. Seorang mahasiswa sering membincangkan betapa jahat (killer) dosen yang men ga- jarnya. Perawat dan karyawan itu sangat sungkan kepada pemilik rumah sakit tempat ia bekerja. Bagaimanapun dan siapapun, dalam kondisi apa-pun, marah itu tidak diperkenankan agama, kecuali marah professional. Yang dimaksud marah prof esional adalah sesuai dengan tempatnya, juga bukan urusan pribadi, tetapi karena urusan syariat Allah SWT, dengan tujuan utamanya ialah untuk memperbaiki diri dan masyarakat. Nabi SAW kadang juga marah, terlihat dari rona merah dari wajah Rosulullah SAW ketika be liau sedang marahan. Perlu di catat dan diperhatikan, bahwa kemarahan Nabi SAW itu bukan karena masalah pribadi, tetapi karena untuk kemaslahatan umat, menengakkan syariat Allah SWT, tetapi tetap bijaksana, dan gampang memaafkan.

Dalam sebuah peperangan, Usamah Ibn Zaid pernah membunuh seorang musuh yang tidak berdaya, padahal musuh itu sudah mengucapkan sahadat “La Ilaha Illa Allah Muhammadurrosulullah”. Kemudian Rosulullah SAW men- dengar laporan tersebut. Usamah Ibn Zain membunuh musuhnya, dia menyangka bahwa orang yang bersahadat tersebut hanya untuk menyelamatkan diri agar tidak dibunuh. Karena Nabi SAW pernah menyampaikan bahwa orang yang bersahadat itu darahnya haram ditumpahkan. Nabi Muhammad SAW, menyalahkan sikap Usamah Ibn Zaid ra, dengan mengatakan berkali-kali “Apakah engkau mem- bunuhnya setelah dia mengatakan la Ilaha illallah?” (HR. al-Bukhari). Dalam sebuah kisah lainnya, Nabi Muhammmad SAW pernah marah kepada seorang sahahat yang memakai cincin dari emas. Nabi SAW tidak suka melihatnya, karena Nabi SAW melarang (me- ngharamkan). Dari Ali Ibn Abi Thalib ra, beliau berkata” Nabi SAW pernah mengambil sutrai kemudian meletakkan di samping kirinya, dan mengambil emas diletakkan disamping kananya”. Kemudian Rosulullah SAW berkata “keduanya (emas dan sutra) dilarang bagi umatku dari kaum laki-laki” (HR Al-Nasai). Wajar jika Rosulullah SAW marah saat menyaksikan sahabatnya mengenakan cincin emas. Kemudian Nabi SAW me- lepaskan dan mencabut cincin yang di kenakan, dan melemparkannya ke tanah. Lantas Nabi Muhammad SAW mem- peringatakan “Salah seo rang di antara kalian dengan sengaja men- ceburkan diri ke jilatan api dengan meng gu- nakannya (cincin emas, penj) di tangan nya,” (HR. Muslim).

Masih banyak bentuk marah Rosulullah SAW, yang jelas marah Ro sulullah SAW tidak sama dengan bentuk marah pengikutnya. Sebagian besar bent uk dari pengikutnya karena masalah pribadi, keluarga, pekerjaan, bahkan masalah yang remeh temeh kadang menjadikan kemarahan. Nabi Muhammad SAW, tidak pernah marah terkait dengan urusan pribadi, keluarga, juga urusan pekerjaan. Kaluapun Nabi SAW sedikit tersinggung, Nabi segera memaafkan, karena beliau SAW seorang yang pemaaf (Al- Afinan Aninnas). Tidak pantas seorang utusan Allah SWT memiliki rasa dendam, dan benci, kecuali atas wahyu Allah SWT. Rosulullah SAW sangat mewanti wanti sahabatnya, juga para pengikutnya dimana saja berada agar supaya menahan diri dari amarahnya. Sebab, marah itu sumber masalah dan petaka. Dalam sebuah penjelasanya, Ro- sulullah SAW bersabda” Orang yang kuat tidaklah yang kuat dalam bergulat, namun mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Malik). Dalam riwayat lain, yang ber- sumber dari Abu Said al-Khudri, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik- baik orang adalah yang tidak mudah marah dan cepat meridlai, sedangkan seburuk-buruk orang adalah yang cepat marah dan lambat meridlai.” (HR. Ahmad). Bahkan para ulama sufi ber- pendapat “orang yang hebat itu bukanlah orang memiliki sifat sa- bar, tetapi orang yang hebat itu orang yang memikiki watak pe-marah, tetapi dia mengendalikan kemarahanya karena ingat kepada Allah SWT”. Bagaimana tidak hebat, ketika dalam kondisi marah, ternyata mampu mengendalikan diri, dan menjadi orang sabar dan pemaaf. Beruntung sekali orang yang mampu menahan diri, tidak tersulut marah, baik karena urusan pribadi, keluarga, maupun urusan lainnya. Masih membincangkan marah, telah datang seorang laki-laki kepada Rosulullah SAW, lalu laki- laki itu meminta nasehat penting kepada Nabi SAW. Rupanya, laki-laki yang datang itu sering marah-marah kepada keluarganya (istrinya). Nabi SAW mengerti apa yang tersirat dalam hati sahabatnya itu. Nabi-pun berkata “jangan ma- rah Nabi SAW mengulang-ulang… jangan marah…” (HR Bukhori). Tujuan diulang-ulang kalimat “jangan marah..jangan marah” agar supaya semakin yakin, bahwa “marah itu menjadi pokok masalah”. Siapapun yang bertanya kepada Nabi SAW, terkait dengan urusan keluarga, Nabi SAW selalu mengatakan “jangan marah”. Rupanya, Nabi SAW sangat me- mahami, bahwa marah itu urusan yang paling sulit di dalam membina keluarga sakinah dan penuh berkah. Sebagian besar kegagalan rumah tangga, bukan karena tidak punya harta, juga bukan karena pendidikan yang rendah, tetapi karena tidak bisa menahan amarah. Untuk itulah, Nabi Muhammad SAW, secara pribadi memberikan contoh bagaimana membina sebuah keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang, adalah keluarga tanpa banyak amarah di dalamnya. Setiap masalah yang dihadapi, selalu ada solusinya, dan masing- masing menyadari atas kesalahan dan kekurangnya. Nabi SAW pernah berkata “sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku” (HR Tirmidzi, Ibn Majah) (Abdul Adzim Irsad, Malang 4/10/2015)



Last Update: 27-11-2015 02:22

 [Indeks]
Home | Profil | Daftar donator | LSES | Berita | Kontak
Visit us Online:  Facebook Youtube
Hak Cipta 2013 LAZIS Sabilillah Malang