Syi'ar

ILMU DAN AKHLAK

Menuntut ilmu adalah wajib hukumnya bagi setiap umat muslim seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW:

Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan. Perlu diketahui bahwa ilmu membuat seseorang menjadi mulia baik itu di hadapan manusia maupun di hadapan Allah. Seperti dalam firman Allah SWT :

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Mujadilah 11)

Ilmu adalah harta yang amat berharga, bahkan lebih berharga daripada kekayaan berupa materi. Hanya dengan ilmulah manusia bisa memahami perumpamaan-perumpamaan yang diberikan oleh Allah untuk manusia yang ada di dalam Al Quran. Kita wajib belajar setiap hari agar ilmu kita makin bertambah, karena hanya dengan ilmulah manusia bisa mendapatkan petunjuk Al Quran. Semua itu sangat didorong oleh hadits Nabi Muhammad SAW : 

Barangsiapa yang Allah kehendaki baik, niscaya Allah akan memberinya pemahaman di dalam agama. (HR. Bukhari)

Selain membuat seseorang menjadi faqih (orang yang paham ilmu agama), ilmu sejatinya harus melahirkan akhlak mulia. Para ulama terdahulu benar-benar telah membuktikan keduanya : faqih sekaligus berakhlak mulia. Mereka selalu menjaga kualitas akhlaknya. Akhlak kepada Allah, Rosul, dan sesamanya. Ketinggian derajat, pencapaian ilmu yang mendalam, dan kebesaran wibawa, tidak membuat mereka merasa lebih mulia dan lebih baik dari orang lain. Sering kita mendengar bahwa di antara ciri yang membedakan manusia dari binatang adalah akal atau ilmu. Pernyataan ini tidak keliru. Tapi mesti digarisbawahi, di atas ilmu ada yang lebih utama, yakni akhlak. Sebab, ilmu seberapapun banyaknya tanpa disertai adab yang baik akan menjerumuskan manusia dalam perilaku binatang, atau mungkin lebih rendah. Betapa banyak peperangan, kesewenang-wenangan kekuasaan, kerusakan alam, atau sejenisnya muncul justru karena ditopang kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi zaman sekarang. Karena itu, yang paling mendasar dibutuhkan bagi peradaban manusia adalah akhlak. Ilmu memang sangat penting, tapi pondasi berupa akhlak jelas lebih penting. Karena akhlaklah yang menyelamatkan manusia dari keserakahan, kezaliman, kekejaman, keangkuhan, kebencian, dan sifat-sifat tercela lainnya.

Seorang ulama’ sufi yang bernama Syekh Abdullah bin Mubarok mengatakan :

Kita lebih membutuhkan adab (meskipun) sedikit dibanding ilmu (meskipun) banyak. Meletakkan akhlak di atas ilmu menjadi tanggungjawab kita semua, sebagai anak kepada orangtua, sebagai santri, siswa, maupun mahasiswa kepada guru-gurunya, sebagai orang yang lebih muda kepada yang tua atau sebaliknya. Meletakkan akhlak menjadi sangat penting di saat terjadi degradasi moral, pergaulan bebas tanpa batas, tawuran massal antar pelajar, sikap anarkis sebagian pelajar saat melakukan aksi unjuk rasa, dan seambrek fenomena lainnya yang memaksa kita untuk jauh lebih lama dalam mempelajari akhlak. Jika akhlak seseorang itu baik, maka masih jauh lebih baik dari ilmuwan namun menyimpan bara pelanggaran. Berapa banyak orang-orang yang berilmu luas, bertitel akademik, namun tak dinyana ia terjerembab dalam kasus korupsi. Berapa banyak para cerdik padai, kaum intelektual, namun semakin jauh dari kebenaran (Allah). Ilmu dan akhlak tidak akan digapai dengan duduk berleha-leha, tanpa ada upaya dan kesungguhan, sebab mendapatkannya lalu menyatukan keduanya adalah sebuah usaha yang tidak mudah. Harus melalui proses yang terjal dan berliku. Oleh karena itu, akhlak perlu dibentuk, dibina dan dibangun diatas pondasi yang benar agar pribadi yang dibentuk menjadi pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab. Setidaknya ada dua keutamaan bagi orang yang berakhlak :

Pertama, akhlak yang baik akan meningkatkan derajat.

Rosulullah SAW bersabda :

Sesungguhnya seorang hamba itu benar-benar mencapai derajat orang yang berpuasa dan sholat malam dengan sebab akhlaknya yang baik. (HR. Abu Dawud)

Kedua, akhlak yang baik adalah ukuran keimanan.

Rosulullah SAW bersabda :

Orang mukmin yang sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. (HR. Ahmad) Di sisi lain, akhlak yang buruk dapat melenyapkan amal. Banyak hadits yang menerangkan terhapusnya amal karena akhlak yang buruk. Marilah kita berusaha menuntut ilmu dan berakhlak yang mulia. Mudah-mudahan itu bisa menjaga amal-amal kita agar tidak lenyap seketika.

Wallahu a’lamu bish showab



Last Update: 03-10-2018 13:29

 [Indeks]
Home | Profil | Daftar donator | LSES | Berita | Kontak
Visit us Online:  Facebook Youtube
Hak Cipta 2013 LAZIS Sabilillah Malang