Kolom Utama

HALAL BIHALAL MASIH PADA NILAI TRADISI Oleh : PROF DR. KH. M. TOLCHAH HASAN

SETIAP tahun kita pasti melakukan dan melihat di mana-mana, disekolah, institusi, lembaga, dimasjid dan di kampung - kampung dan dilain tempat pasti setelah Ramadhan masuk bulan syawal akan kita temui kegiatan rutin atau acara tahunan rutin yang di sebut halal bi halal.

Namun halal bi halal yang kita lakukan dari tahun ke tahun masihlah lebih pada nilai- nilai tradisi dan belum pada nilai- nilai edukasi atau pendidikan. Maka yang dilakukan dari tahun ketahun masihlah sama nilainya dalam arti yang tetap seperti itu- itu saja artinya belum ada pening- katan dari tahun ke tahun dari apa sekarang bagaimana. Ini berarti halal bi halal yang kita lakukan masih dalam tataran kebiasaan dan tradisi dan belum mengarah pada kesadaran akan manfaat dan hikmah yang besar dari kegiatan  halal bi halal. Biasanya tema halal bi halal mengacu pada pengama- lan bulan ramadhan  yang men- jadikan puasa itu adalah untuk membentuk karakter orang mut- taqin. Orang yang muttaqin akan mencapai derajat muhsinin yaitu orang yang selalu melakukan kebaikan karena syarat muttaqin adalah amanu wa amilushsholihat beriman dan selalu berbuat kebai- kan. Itu artinya potensi iman jika dikembangkan dalam bentuk puasa dan di praktekkan betul kesungguhan puasa itu, maka prestasinya adalah la’allkum tattaqun menjadi orang yang bertaqwa. Bagaimana prestasi orang bertaqwa itu telah di jelaskan dalam Alqur’an,” Alladzina yunfiquna fis sarro-i wadhdhorro-i wal kadhiminal ghoidho wal ‘afina ‘anin nas.Wallahu yuhib- bul muhsinin”.Artinya: Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahn- ya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyu- kai orang-orang yang berbuat ke- bajikan (surat   Al Imran 134). Yang pertama, ia akan menjadi orang- orang yang mempu- nyai semangat ber infaq, berderma, dan berbagi kepada orang lain dalam arti membantu kesulitan atau kes- usahan orang lain yang ia laku- kan dalam keadaan kelonggaran maupun diwaktu sempit, dalam keadaan berlebihan maupun pas-pasan, ia akan berupaya dan senang selalu ingin membantu sesama. Yang kedua ia akan mampu mengubah dirinya menjadi pribadi yang kadhiminal ghoidoh  mampu menahan amarah, jika ini dipraktekkan maka akan ada suasana dalam rumah tangga sakinah tidak akan ada kekerasan dalam rumah tangga. Yang ketiga, wal’afina aninnas orang yang suka memaafkan orang lain bahkan sebelum orang yang punya kesalahan itu minta maaf padanya. Kalau karakter memaafkan orang lain sudah ada pada kita, maka kita akan mudah menyenangkan orang
lain, dalam kehidupan berumah tangga, dalam organisasi, kerja, dan lain sebagainya. Jika kita su- dah mampu menyenangkan orang lain, bisa memudahkan orang lain, kita akan di senangkan oleh Allah dan dimudahkan urusan kita di dunia maupun di akherat nanti. Dari Abu Hurairah radhial- lahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda yang arti- nya: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadi- kan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkan- nya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutup aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya. Barang siapa men- empuh suatu jalan untuk mencari ilmu, pasti Allah memudahkan baginya jalan ke surga. Apabila berkumpul suatu kaum di salah satu masjid untuk membaca Al Qur’an secara bergantian dan mempelajarinya, niscaya mereka akan diliputi sakinah (ketenangan), diliputi rahmat, dan dinaungi malaikat, dan Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan makhluk-makhluk lain di sisi-Nya. Barangsiapa yang
lambat amalannya, maka tidak akan dipercepat kenaikan dera- jatnya”. Dalam Alqur’an juga menyebutkan sebuah prestasi dan keistimewaan orang mut- taqin ,Wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhrojaa,wayarzuqhu min haitsu laa yahtasiib. Wa man yatawakkal ‘alallahi fa- huwa hasbuhu.Innallaha balighu amrihi, Qod ja’alallahu likulli syaii-in Qodroo. ( At-Thalaq ayat 2-3 ): “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya DIA akan memberikan jalan keluar dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya DIA akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah men- jalankan urusanNYA. Sesung- guhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu “sebagai uraian akhir dalam meningkatkan nilai-nilai halal bihalal, ada tiga ikon yang dapat kita jadikan pegangan dalam menangani keluarga, menan- gani organisasi, menangani masyarakat bangsa dan negara  yaitu mendekatkan diri kepada Allah, peduli terhadap sesama, meningkatkan kuwalitas diri dan kinerja. Jika ini dapat kita lakukan insyaAllah janji-janji Allah itu akan kita rasakan. Semoga semua amal-amal iba- dah kita diterima Allah sehigga dapat memberikan inspirasi dan mempengaruhi sikap dan prilaku kita menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya, minal aidin wal faizin taqobbalAllahu minna waminkum taqobbal yakarim. (Red*)
 



Last Update: 20-08-2014 01:55

 [Indeks]
Home | Profil | Daftar donator | LSES | Berita | Kontak
Visit us Online:  Facebook Youtube
Hak Cipta 2013 LAZIS Sabilillah Malang