Ekonomi Islam

LEBARAN DAN LARANGAN BERLEBIH LEBIHAN Oleh : NOOR SHODIQ ASKANDAR

SEBAGAIMANA tulisan saya pada edisi sebelumnya, lebaran saat ini bagi ma- syarakat muslim tidak hanya sebagai perayaan kesuksesan melakanasakan puasa ramadlan satu bulan. Akan tetapi juga merupakan bagian dari upaya menunjukkan eksistensi diri akan kesuksesan yang telah diraihnya di kampung halaman.

Baik yang belum sukses, sedang sukses atau telah sukses dalam kurun waktu yang lama, semua ingin menunjukkan apa yang telah diraihnya. Hal ini sangat terlihat dari perilaku warga ma- syarakat yang merantau ketika mudik dengan segala pernak perniknya. Mudik lebaran seakan telah menjadi bagian dari gaya hidup. Jutaan orang rela melakukan perjalanan panjang yang me- lelahkan dengan berbagai alat transportasi. Ada yang mudik gratis, menggunakan kendaraan umum, kendaraan pribadi baik mobil maupun motor, dan yang lainnya. Bahkan terkadang sampai melakukan pelang-
garan, dengan menggunakan kendaraan tidak sebagaimana peruntukannya. Sesampai di kampung halaman, baju baru, kendaraan baru yang terkadang juga hasil sewa, serta segala pernak-pernik asesoris yang menunjang penampilan ditun- jukkan agar terkesan fashion- able. Memang ini semua tidak ada yang salah, sepanjang dilakukan sesuai kemampuan dan tidak mengurangi makna lebaran untuk mengurangi dosa dengan bersilaturrohmi untuk saling memaafkan. Setelah puasa satu bulan dengan janji jika dilak- sanakan dengan keimanan dan keihlasan akan keihlasan akan diampuni dosanya yang telah lalu oleh Allah swt (Man shoma imanan wahtisaban ghufiro lahu ma taqoddama min dzanbih), bulan syawal saatnya saling memaafkan untuk menghapus doa hak adam. Dengan demikian, lebaran bukan hanya saat pesta ke- menangan dengan menunjuk- kan sesuatu yang serba baru
yang terkadang melebihi ke- mampun ekonomi yang sebena- rnya. Tetapi juga harus selalu memperhatikan tata laku dalam melakukan aktivitas konsumtif, agar tidak kembali mengulang kesalahan dengan melakukan berbagai aktivitas yang tidak melanggar ajaran agama. Ajaran Islam telah mem- berikan beberapa patokan dasar. Pertama, tidak boleh melakukan pemenuhan secara berlebih-lebihan. Firman Allah : “Janganlah kamu berlebih- lebihan, sesungguhnya Allah ti- dak menyukai (Al An’am 141)”. Kedua, dalam membelanjakan harta kekayaan dilarang berlaku boros, sebagiamana firman Al- lah : “Sesungguhnya pemboros- pemboros itu adalah saudara syaitan dan syaitan ini adalah sangat ingkar kepada Tuhannya (Al Isro’ 27)”. Ketiga, anjuran untuk menafqohkan sebagian kekayaan yang dimilikinya untuk kepentingan di jalan Al- lah dan larangan kikir. Firman Allah : “Ingatlah kamu ini orang-orang yang diajak untuk
menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah, maka diantara kamu ada orang yang kikir dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir trehadap dirinya sendiri (Muhammad 38)”. Keempat, peringatan Rasulullah saw tentang peng- gunaan harta : “Sesungguhya Allah menjadikan dunia ini atas tiga bagian : Bagi orang mukmin  dipergunakan un- tuk bekal akhirat, bagi orang munafiq ; dipergunakan untuk perhiasan, dan bagi orang kafir ; dipergunakan untuk memnuhi nafsunya (HR. Ibnu Abbas) Kini saatnya kita semua melakukan refleksi diri atas apa yang kita lakukan pada saat lebaran ini. Bisa jadi sudah, bisa juga belum. Akan tetapi bisa juga kita lupa bahwa yang telah kita lakukan sedikit melenceng dari norma-norma agama. Semoga Allah swt memaafkan setiap yang kesalahan yang telah kita lakukan. Semoga juga, antar sesame kita juga saling memaafkan. Bagaimana dengan anda? (*)
 



Last Update: 20-08-2014 02:02

 [Indeks]
Home | Profil | Daftar donator | LSES | Berita | Kontak
Visit us Online:  Facebook Youtube
Hak Cipta 2013 LAZIS Sabilillah Malang