Ekonomi Islam

BELAJAR DAGANG DARI KISAH KEHIDUPAN RASULULLAH SAWBELAJAR DAGANG DARI KISAH KEHIDUPAN RASULULLAH SAWBELAJAR DAGANG DARI KISAH KEHIDUPAN RASULULLAH SAW

JUDUL tersebut sengaja saya kutip dari sebuah hadits Riwayat Mu’az bin Jabal “Ber- sabda Rasulullah saw : Ses- ungguhnya sebaik-baik usaha adalah usaha perdagangan” (HR Baihaqi yang disampaikan oleh As-Ashbahani).

 Rasulullah Muhammad saw tidak hanya mengucap saja, akan tetapi mencontohkan dalam sebagian besar kehidupan beliau yang  bergelut dalam dunia bisnis (usaha perdagangan). Selama kurang lebih dua puluh lima (25) tahun, Muhammad saw menjalani dunia perdagangan dengan segala pernak perniknya. Masa ini ternyata lebih lama dari masa ke-Rasulan Muhammad saw yang dijalani dua puluh tiga (23) tahun, terhitung mulai umur empat puluh (40) tahun sampai dengan beliau wafat un- tuk menghadap Allah swt pada usia enam puluh tiga (63) tahun. Sejak ibunda Aminah binti Wahb bin Abdul Manaf wafat, Muhammad saw yang kala itu berumur enam (6) tahun dia- suh kakeknya Abdul Mutholib selama dua tahun sampai sang kakek wafat. Kemudian beliau diasuh oleh sang paman Abu Tholib yang secara ekonomi masih kurang mapan (dalam sebuah cerita disebutkan bahwa Abu Tholib adalah paman Ra- sulullah saw yang paling rendah kemampuan ekonominya). Kondisi ini yang membuat Muhammad saw kecil berusaha hidup mandiri dan bahkan beru- saha membantu perekonomian sang paman. Pekerjaan apa saja, termasuk menggembala kambing dijalaninya dengan ketekunan, kesabaran, keuletan dan keihlasan. Kehidupan perdagangan dimulai di usia ke dua belas (12),
dengan mengikuti rombongan perda- gangan (bisnis) ke negeri Syam (sekarang baca : Suriah) atas izin sang paman. Banyak hal dapat dipelajari dari perjalanan ini. Mulai dari proses dagang, waktu keramaian di setiap tem- pat, pusat-pusat perdagangan, konsumen utama, komoditas yang laris dalam perdagangan, system harga pada saat beli dan jual. Beliau juga mempelajari bentuk jual beli, tata cara pemasaran serta mem- bangun hubungan yang lebih baik dengan pelanggan bisnis  (Bakhri, dkk  2012 : Sukses Berbisnis ala Rasulullah saw).  Ada satu hadits yang patut kita renungkan dalam melayani pelanggan  sebagaimana ajaran Rasulullah saw “Allah swt merahmati orang yang murah hati ketika menjual, membeli dan menagih” (HR Bukhori dari Jabir bin Abdullah). Ini dibukti- kan Muhammad saw yang setiap kedatangannya selalu ditunggu oleh para pelanggannya. Tidak hanya murah hati, tetapi juga kejujurannya sangat terkenal, sehingga mendapatkan julukan “Al amin” (dapat dipercaya). Sungguh prinsip pemasaran yang jitu dan akan tetap cocok dari dulu sampai kapanpun juga. Secara teori, jika pelanggan mendapatkan pelayanan yang baik, mereka akan puas. Jika puas, pasti akan melakukan tran- saksi ulang yang berkelanjutan.  Usahapun dapat  menjadi sukses dan berjangka panjang karena terus mengalami pertumbuhan.
 Ketika Mu- hammad saw berusia tujuh belas (17) tahun, beliau mulai melakukan ekspedisi dagang secara man- diri bekerjasama dengan Zubair.  Disinilah Mu- hammad saw mulai menerapkan prinsip-prinsip dagang yang baik dengan mengede- pankan kejujuran, keihlasan dan pelayanan yang prima. Sukses yang diperoleh kemudian terdengar oleh Saudagar kaya dan terkenal yaitu Siti Khotijah binti Khuwailid dan selanjut- nya menawarinya kerjasama perdagangan dengan system bagi hasil yang lebih menjan- jikan. Sistem yang digunakan adalah mudlorobah dimana Khotijah bertindah sebagai shohibul mal (pemilik modal) dan Muhammad saw sebagai pengelola modal (mudlorib).
Hal ini dapat dicermati dari ucapan Siti Khotijah “Aku akan memberimu bagian yang lebih banyak dari apa yang aku beri- kan kepada orang lain (Jauzi, 2006 : Al wafa, Kesempurnaan Pribadi Nabi Muhammad saw). Perjalanan bisnis dijalani Muhammad saw sampai masa ke-Nabian beliau tiba di umur empat puluh (40) tahun. Pahit getir dan bahagia dari dunia bisnis beliau jalani dengan konsisten sampai tugas yang jauh lebih besar diberikan oleh Allah swt kepada Rasulullah Muhammad saw. Tentu kisah ini memberikan pembelajaran bahwa kehidupan ekonomi menjadi bagian penting dalam meniti hidup sebagai sarana menghambakan diri kepada Allah swt sang pencipta. Cerita kehidupan Rasulullah saw juga menggambarkan perlunya kehidupan mandiri dan men- gurangi ketergantungan kepada fihak lain, yang harus diikuti seluruh ummat muslim di dunia ini. Bagaimana dengan anda ?
 



Last Update: 20-09-2014 01:10

 [Indeks]
Home | Profil | Daftar donator | LSES | Berita | Kontak
Visit us Online:  Facebook Youtube
Hak Cipta 2013 LAZIS Sabilillah Malang