Kisah Teladan

KH Muhammad Said Pencetak Ulama Sejati Kota Santri Malang Oleh : Abdul Adzim Irsad

ROSULULLAH SAW mewanti-wanti kepada para pengikutnya agar supaya dekat dengan para ulama, karena ulama itu pewaris para Nabi. Seorang Sufi yang terkenal dengan sebutan Syekh Imam Hasan Al- Bashori mengatakan:"Andaisaja tidak ada ulama, pasti manusia akan hidup seperti binatang".

Siapa yang memulyakan ulama, sama dengan memulyakan para utusan Allah SWT.
Ulama itu tidak mewariskan harta benda, tetapi mewariskan ilmu. Ilmu yang bermanfaat itu hanya akan di miliki oleh para ulama. Orang tidak akan dikatakan sebagai ulama pewaris para Nabi SAW, jika hanya memiliki pengetahuan (ilmu), tetapi tidak memiliki khosyah (rasa takut kepada Allah SWT). Orang yang memiliki ilmu derajatnya memnag tinggi di sisi Allah SWT, jika orang tersebut mengamlakan ilmunya. Rosulullah SAW bersabda: "keutamaan orang berilmu atas orang ahli ibadah bagaikan  keutamaanKu atas kalian semua (sahabat). Sesunguhnya Allah SWT dan para malaikat serta penduduk langit dan bumi, bahkan  bina- tang semut yang berada dalam lubangnya, bahkan ikan di dalam lautan senantiasa mendoakan orang-orang yang mengajarkan ilmu kepada manusia" (HR Tirmidzi). Begitu banyak penjelasan Al-Quran serta hadis Rosulullah SAW yang menginformasikan seputar keutamaan orang yang berilmu (ulama). Karakteristik ulama pewaris Nabi SAW di Nusantara di sebut dengan Kyai (Kanjeng Sunan). Oleh karena itulah para ulama yang menebarkan Islam di seluruh pelosok nusantara itu disebut dengan  para sunan. Jika dilihat dari segi bahasa, Sunan itu berarti orang-orang yang suka menghidupkan dan membumikan sunnah Rosulullah SAW di bumi nusantara. Sunan-sunan yang terkenal di pulau Jawa disebut juga dengan Al-Duatu Al-Tisah (Sembilan Dai). Dengan kedalamaan ilmu spiritual- nya, serta budi pekerti yang luhur mengajak orang berbuat baik dan mencegah kemungkaran. Ulama- ulama Al-Duatu Al-Tisah dengan karakteristiknya kemudian dikenal dalam bahasa Jawa dengan istilah Wali Songo.
KH Muhammad Said Ketapang. Orang yang pertama kali menceritakan tentang KH Muhammad Said adalah Buya Suyuti Dahlan Al-Marhum. Buya Suyuti adalah salah satu santri dari KH Muhammad Said, sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ulum Kacuk- Kebonsari-Malang. Walaupun saya tidak pernah nyantri kepada KH Muhammad Said, minimal sedikit banyak pernah belajar kepada Buya Suyuti Dahlan walaupun informal, dan juga pernah mencium tangan beliau.  Penulis juga yakin seyakin- yakinya, bahwa tangan lembut Buya Suyuti Dahlan pernah mencium tangan tangan lembut KH Muhammad Said Ketapang berkali-kali, karena Buya Suyuti nyantri di Ketapang cukup lama. Dengan demikian, mencium tangan KH Suyuti Dahlan seolah- oleh mencium KH Muhammad Said Ketapang. Perlu di ketahui, KH Muhammad Said Ketapang itu pernah nyantri kepada Mbah Hasyim Siwalan Panji-Sidoarjo, di Mbah Hasyim Asaary juga pernah nyantri kepada Mbah Hasyim Siwalan Panji. ( KH Abdullah Fakih Malang, santri KH Ar- wani Kudus, sekaligus kerabat dari KH Suyuthi Dahlan.)
Teringat dengan seorang Tabiin yang bernama Said Al- Bunani, ketika beliau bertemu dengan sahabat Anas Ibn Malik ra. Said Al-Bunani segera berge- gas mendekati dan mencium tangan sahabat Anas Ibn Malik ra. Said-pun menjelaskan: "karena tangan sahabat Anas Ibn Malik ra pernah bersentuhan dengan tangan Rosulullah SAW". Kebetulan saya pernah dekat sekali dengan beliau. Kedekatan itu saya pergunakan banyak bertanya seputar ulama-ulama Malang Raya, sehingga lumayan banyak informasi seputar yang kudapatkan. (Bersambung)



Last Update: 20-08-2014 02:24

 [Indeks]
Home | Profil | Daftar donator | LSES | Berita | Kontak
Visit us Online:  Facebook Youtube
Hak Cipta 2013 LAZIS Sabilillah Malang