Kisah Teladan

KH Muhammad Tholhah Mansoer Sang Begawan NU dari Malang (Bagian 2 Habis) oleh : Abdul Adzim Irsad

GURU-GURU beliau dalam ilmu agama cukup banyak. Sebagai santri, beliau selalu menyempatkan belajar ilmu agama (nyantri) ke beberapa ulama sepuh NU.

Di antara guru-guru ngaji Tholhah Mansoer ialah, KH Sykuri Gozali, KH Murtaji Bisri. Sudah menjadi sebuah tradisi, setipa bulan puasa, para santri ngaji kilatan di beberpa ulama. Tholhan Mansoer menyempatkan diri ngaji di beberapa pondok pesantren, di anta- ranya Tebu Ireng, Al-Hidayah, Soditan, Lasem di bawah asuhan KH Ma’shum. Berkah dari ngaji di beberapa kyai, Tholhah Mansoer ahirnya menjadi ulama dan intelektual hebat dan berkualitas. Sejak remaja, Tholhah Mansoer sudah aktif berorganisasi, khususnya organisasi ke NU- an. Ketika masih Tsanawiyah, Tholhah Mansoer sudah pernah menjadi sekertaris IMNU (Ika- tan Murid Nahdhotul Ulama) kota Malang, pada tahun 1945. Beliau juga pernah menjadi Ketua Departemen Penerangan Pengurus Besar PII (Pelajar Islam Indonesia), saat itu Tholkah Mansoer masih kuliah di Jokjakarta. Beliau juga pernah menjadi ketua I HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) untuk wilayah Jokjakarta. Dalam dunia pendidikan, Tholhah Mansoer juga mengajar dibeberapa perguruan tinggi, seperti; IAIN sunan Kalijaga, IKIP Yogyakarta, IAIN Sunan Ampel, dan Akademi Militer di Magelang. Beliau juga pernah menjadi Direktur Akademi Administrasi Niaga Negeri (1965- 1975), menjadi Rektor Universitas Hasyim Asy’ari, Jombang (1970-1983), Rektor Perguruan Tinggi Imam Puro, Purworejo (1975-1983) serta menjadi Dekan Fak. Hukum Islam di Universitas Nahdlatul Ulama di Surakarta. Melalui lisan dan tulisan, M u h a m m a d Tholhah Mansoer membumikan gagasan-gagasanya untuk untuk negera Indonesia lebih maju dan bermartabat. NU memang tidak lepas dari politik, walaupun NU tidak boleh berpolitik praktis. Tetapi dalam catatan sejarah, hampir sebagian besar tokoh-tokoh NU sangat mumpuni dama urusan politik. KH Tholah Mansoer, yang aktif dan menjunung tinggi nilai-nilai ke-NU anya, juga terjun dalam dunia politik. Tentu saja poli- tiknya bersih dan santun, bukan menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan. Akan, tetapi dalam karirnya KH Tholhah Mansoer lebih banyak mengabdikan diri pada jamiyah Nahdhotul Ulama. Di sisi lain, sang istri ternyata sangat aktif dalam politik praktis. Dra Hj. Umrah Mahfudhzoh aktif dalam partai politik ber- lambang Ka’bah (PPP). Pernah menjadi ketua DPW Jokjakarta, hingga menjadi anggota DPRD I Jokjakarta, bahkan pernah melenggang di DPR/MPRI RI, sebagaimana sang suami yang pernah menjadi anggota DPR mewakli NU pada tahun 1958. Hampir semua hidupnya di darma baktikan untuk NU. Ciri khas seorang ulama NU jaman ialah mampu menjadi pe- mimpin di masyarakat. Mampu menyampaikan pesan-pesan Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW melalui lisan (ceramah, khutbah) dengan santun. Bisa juga menyampaikan pesan-pesan Al-Quran dan Hadis Nabi SAW melalui artikel, buku. Seolah- olah mereka ulama itu mampu menangkap pesan QS Al-Alaq (96:1-5) yang intisarinya adalah perintah untuk membaca (belajar). Kemudian ilmu yang telah di peroleh melalui mendengar (menyimak) dan membaca (qiroah) di sampaikan melalui Al-Qolam (tulisan) dan ceramah (lisan). Selanjutnya, semua itu akan bermakna jika di dasari dengan selalu menyebut nama Allah SWT. Rosulullah SAW pernah mengatakan: “Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai apa yang diniatkan, barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena du- nia yang akan didapatkan atau wanita yang akan dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari Muslim). Niat yang baik itu ibrat mata air yang jernih yang selalu mengalir air yang jernih. Begitulah kisah sang Begawan NU dari kota Malang, KH Muhammad Tholhah Mansoer. (*)



Last Update: 21-08-2014 03:28

 [Indeks]
Home | Profil | Daftar donator | LSES | Berita | Kontak
Visit us Online:  Facebook Youtube
Hak Cipta 2013 LAZIS Sabilillah Malang