Kisah Teladan

Kiprah KH Maskur Menjaga Ahlussunah Waljamaah

KH Masykur sebagai seorang santri memiliki kewajiban untuk merebut dan berjuang untuk berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

KH Masykur juga menjadi pilar untama menjaga akidah islamiyah yang benar sesuai dengan ajaran Rosulullah SAW dan sahabat-sahabatnya yang lebih populer dengan istilah “Ahlussunah Waljamaah”. NU salah satu organisasi yang benar-benar menjaga akidah Aswaja sebagaimana yang telah ajarkan Rosulullah SAW, dan Al-Imam Syekh KH Muhammad Hasyim Asyary juga mengajajarkan akidah Aswaja kepada santri-santri dari seluruh pelosok Nusantara, termasuk kepada KH Masykur. Siapa yang tidak kenal dengan KH Masykur, sokok pejuang sejati dari kota santri Singosari Malang. Kiprahnya begitu luar biasa di dalam ikut serta mendirikan Negara Kesatuan Repubik Indonesia bersama-sama dengan kyai dan ulama. KH Masykur juga sangat setia dan gigih di dalam perjuangan dan dakwah Nahdhoul Ulama’ yang merupakan organisasi ke-agaman yang berbasis kaum sarungan (santri). Itu semua tidak lepas dari wejangan-wejangan KH Muhammad Hasyim Asyaary yang bertahun- tahun ngaji dan nyantri kepada Syekh Muhammad Mahfudz Al- Turmusi Makkawi (Makkah). Dari waktu kewaktu, sebagi seorang santri, KH Masykur tetap setia di dalam memperjuangkan nilai-nilai ahlakul karimah sesuai dengan ajaran Rosulullah SAW. KH Masykur benar-benar menjaga tradisi seorang santri. Pesantren itu rumahnya santri, dimana di dalamnya ilmu-ilmu agama yang terkait erat dengan masalah aqidah, ibadah dan muamalah. Dengan tujuan agar supaya modernisasi yang sedang melanda kaum sarungan (santri) tidak merubah sikap dan kerpibadian seorang santri yang rajin beribadah, dakwah, serta memulyakan guru- gurunya dengan baik. Perbedaan yang signifikan antara santri dan mahasiswa, dimana seorang santri itu tidak akan pernah melupakan jasa-jasa guru dan kyainya sepanjang masa. Apa-pun kedudukannya, baik saat menjadi presiden, menteri, dosen, dokter, pejabat tinggi tetap akan mencium tangan kyainya, dan selalu mendoakan dengan tradisi tahlilan (kirim doa). Santri itu, tidak akan pernah menganggab guru dan kyai yang pernah mengajari mantan, walaupun hanya satu huruf, tetapi di anggab sebagai “guru/kyai”. Bahkan, putra-putri kyainya juga dihormati. Berbeda dengan sebagian besar dari mahasiswa, yang seringkali lupa dengan dosennya. Apalagi, ketika seorang mahasiswa memiliki kedudukan yang tinggi, lupa dan menganggabnya sebagai “mantan dosenku” sering terdengar. Berbeda dengan mahasiswa yang pernah nyantri, pasti akan tetap berpegang teguh dengan nilai-nilai santrinya. Sedangkan santri yang sekaligus mahasiswa, tidak pernah mengatakan itu. Sebab, dalam dunia pesantren seorang santri selalu diajarkan unggah-ungguh, sopan santun yang dirangkum dalam kitab “ta’lim mutaallim”. Bisa dikatakan kitab ini menu wajib seorang santri ketika sedang belajar agama. Ilmu itu tidak akan sampai, kecuali dengan mengikuti aturan sesuai dengan isi kitab Ta’lim Mutaallim. Rasanya belum sempurna seorang santri, jika belum pernah ngaji kitab Ta’lim Mutaalim. Di pesantren, seorang snatri tidak hanya diajarkan ngaji kitab-kitab klasik, seperti; ilmu nahwu, sorof, fikih, hadis dan tafsir. Lebih dari itu seorang kyai itu menjadi rujukan utama seputar ilmu politik, ekonomi, social, bahkan kepemimpinan juga diajarkan dengan baik. Kiprah KH Masykur Terhadap NU Tidaklah aneh, jika KH Masykur sebagai seorang santri sekaligus pejuang sejati (mujahid) negeri ini masih berpegang teguh dengan nilai-nilai kaum sarungan. Kedalaman ilmu, spiritual dan keluhuran budi pekerti kaum santri ternyata sangat luar biasa menjadi pemipim umat. Buktinya, kiprah KH Masykur yang bukan seorang doctor, ke-ilmuanya melebihi seorang doctor. Bahkan pernah menjadi menteri agama berkali- kali dalam dalam empat cabinet berturut-turut. Dari sini, bisa dilihat bahwa NU yang berbasis pesantren itu bukan saja mengajar ngaji ilmu agama, tetapi juga bisa menjadi seorang pejabat Negara yang jujur dan amanah. Organisasi NU yang berdiri hingga saat ini, dilahirkan oleh aspirasi kaum sarungan (santri) yang waktu itu menjadi kaum ter-abaikan. Bahkan, ada selentingan bahwa kaum santri itu kurang pantas rasanya menjadi seorang pejabat Negera, seperti; presiden, menteri, bahkan sangat mustahil seorang santri bisa menjadi seorang Presiden Republik Indonesia. Realitas membuktikan, bahwa kiprah kaum sarungan-pun juga terbukti nyata. Bagi KH Masykur berjuang mengusir penjajah Jepang dan Belanda merupakan Jihad dijalan Allah SWT. Keyakinan Ahlussunah Waljamaah yang digelorkan oleh KH Muhammad Hasyim Asyary, bahwa perang melawan penjajah itu hukumnya wajib, bahkan membela tanah air itu hukumnya fardu ain. Jika wafat maka akan menjadi sahid. Surga dengan segala ke- indahanya menantinya. Itu juga yang diyakini oleh seorang KH Masykur asal Malang Singosari. Bung Karno pernah berkata kepada KH Masykur “Dulu kyai-kyai serta alim-ulma’ mengadakan perlawanan terhadap Belanda secara sendiri- sendiri, sehingga dengan begitu gampang dipatahkan perlawananya. Tetapi, sekarang Kyai-kyai sudah bersatu melakukan perlawanan, sehingga Belanda menjadi kualahan” (Soebagijo I.N. hlm:65). Setelah Negera Indonesia merdeka, KH Masykur bersama KH.Nahrowi Thohir aktif di NU mengikuti jejak sang KH Muhammad Hasyim Asyary sebagai bentuk pengambdian terhadap Dakwah Ahlussunah Waljamaah. KH Masykur orang yang pertama kali menjadi ketua NU Cabang Kota Malang (th.1926 M). Karena sangat ihlas, setia dalam memperjuangankan NU, pada tahun 1938 KH Masykur menjadi penggurus besar NU (HBNU). BarangkaLi sejak saat itulah, KH Masykur semakin aktif dan dikenal oleh banyak orang termasuk para pejuang dari berbagi elemen masyarakat dan organisasi politik, seperti; Kahar Muzakir, seorang tokoh sekaligus akademisi yang pernah menjadi Rektor UII Yokjakarta. Walaupun bukan professor, KH Masykur itu ilmunya sama hebatnya dengan Professor. Kedalaman ilmu dan keluhuruan budi pekerti KH Masykur menjadikan beliau sangat istimewa dan dihormati banyak orang, baik dari kalangan NU, atau selain NU. Ke-Ihlasan KH Masykur di dalam mengabdikan diri pada Jamiyah NU tidak perlu diragukan. Pada tahun 1950 M, KH Masykur pernah menjadi wakil ketua PBNU, sedangkan ketua umumnya adalah KH Wahid Hasyim Asyaary. Pada tahun (19 april 1953 M), KH Wahid Hasyim Kecelakaan, sehingga secara otomatis KH Masykur menjadi ketua Umum PB Partai NU sampai pada tahun 1954 M. Sebagai seorang santri yang menjadi orang penting di NU, maka KH Masykur itu itu tidak meminta menjadi pejabat, tetapi selalu siap mengemban amanah dengan sebaik- baiknya. Malu, dan tidak pantas orang NU meminta-minta jabatan, tetapi selalu siap dan amanal di dalam mengemban jabatan itu. Inilah ciri khas orang NU. Sebagaimana Abu Bakar ra, ketika di diminta menjadi Kholifah sebagai penganti Rosulullah SAW. Abu Bakar ra, justru berkata “wahai Umar, mana tanganmu, biarkan aku membaiatmu”. Ketika semua sahabat sepakat memilih Abu Bakar ra menjadi seorang Kholifah ra, Abu Bakar-pun berpidato dihadapan para sahabat. “wahai manusia, aku telah kalin angkat menjadi seorang pempimpin untuk kalian, tetapi aku bukanlah orang yang lebih baik dari pada kalian semua. Jika kalian melihatku melakukan kebenaran, maka ikutilah aku, jika aku melenceng jangan segan-segan mengingatkan diriku…” Pada bulan November 1947 M, Bung Karno menawari posisi sebagai menteri agama, di masa Kabinet Amir Syarifuddin ke-2. Selanjutnya, dalam Kabinet Hatta-2, KH Masykur masih dipercaya menjadi menteri agama. Pada akhir tahun 1949 M, terbentuk lagi kabinet baru, dengan nama Kabinet RI peralihan, KH Masykur masih dipercaya menjadi menteri ngama. Barangkali, sikap yang dicontohkan KH Masykur harus diteladani oleh generasi muda NU sekarang dan yang akan datang. Tidak meminta jabatan, tetapi selalu siap dan mampu menjalankannya dengan baik dan professional. Pada tahun1952 M, dimana KH Masykur menjadi jajaran pimpinan Pengurus Besar NU, sebagai orang penting yang ber-ilmu dan berkiprah di dalam berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, KH Masykur masih dipercaya menjadi menteri agama pada kabinet Ali-Wongso-Arifin. Terpilihnya KH Masykur sebagi menteri agama mewakili Partai Politik Nahdhotul Ulama. Gagasan-gagasan KH Masykur sebagai seorang menteri agama begitu fenomenal, salah satunya ialah pembuatan kitab suci Al-Quran super besar (raksasa) sebagai Al- Quran pusaka. KH Masykur kemudian meminta seorang ahli dibidangnya, beliau adalah H.Abu Bakar Atjeh, H.Syamsiar, dan Salim Fahmi Langkat, yang sekaligus mendapatkan dukungan dari Presiden Sukarno dan Muhammad Hatta. KH Masykur melanglabuana di dunia social, politik, dan dakwah, usia beliau benar-benar bermanfaat bagi umat. Barangkali, beliau salah satu diantara ulama-ulama NU Malang yang benar-benar mengabdikan dirinya untuk umat. Persis seperti apa yang Rosulullah SAW katakana “sebaik-baik manusia adalah orang yang memberikan manfaat kepada sesama manusia”. Beliau menjadi sosok manusia yang mengikuti jejak Rosulullah SAW dalam kiprahnya. KH Masykur itu berjuang dari dari kota hingga pusat ibukota, bahkan mendunia. Beliau Mulai dari ketua Cabang NU kota Malang, hingga menjadi penggurus besar Nahdhotul Ulama pusat. Beliau mulai dari seorang santri hingga menjadi menteri agama hingga empatkali. KH Masykur bukan saja seorang pejuang dimedan perang, beliau juga seorang politisi sejati, yang pernah menjadi anggota legislatif yang selalu membawa aspirasi warga nahdiyin terkait dengan penegakan syariat islam, khususnya terkait dengan RUU- Perkawinan. Gagasan, perjuangan beliau menjadi amal jariyah yang selalu mengalir sepanjang jaman.

Last Update: 17-10-2015 04:53

 [Indeks]
Home | Profil | Daftar donator | LSES | Berita | Kontak
Visit us Online:  Facebook Youtube
Hak Cipta 2013 LAZIS Sabilillah Malang