Renungan

Hubungan Ramadhan dan Syawwal dalam Kehidupan Oleh : Ust. Ahsan Subur

BARU saja kita menyelesaikan gemblengan dalam bulan Ramadhan sebagai mediaspiritual exercise, pelatihan rohaniah. Kita menjalani servis sebulan lamanya. Kita menyadari bahwa fisik dan rohani kita, ibarat mesin yang harus diservis total di bengkel.

Dengan masuknya kita di bengkel Ramadhan, jasmani dan rohani kita diharapkan berkembang  semakin baik. Meningkatkan amal shalih, dan mengurangi perbuatan tercela. Keinginan yang berlebih-lebihan dan tidak proporsional, mesti ditekan pada batas yang wajar, paling tidak dikurangi. Sehingga kita mampu menciptakan kehidupan yang lebih sederhana, namun tetap dalam nuansa berkecukupan dan suasana harmonis. Allah memperingatkan ke- pada umat manusia yang pola hidupnya berlebih-lebihan  :” dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS.Al An’am [6]: 141). Juga Allah memberikan ancaman kepada orang-orang yang melampaui batas : “Kemudian Kami tepati janji (yang telah Kami janjikan) kepada mereka (orang-orang yang beriman). Maka Kami selamatkan mereka dan orang-orang  yang  Kami  kehendaki  dan  Kami  binasakan  orang-orang yang melampaui batas.”(QS. Al An- biyaa’ [21]:9. Pada bulan Ramadhan itu, kwali- tas kemanusiaan muslim diuji coba, dievaluasi, kemudian direvisi untuk dijadikan tolok ukur sejauh mana kuwalitas ketaqwaannya. Apakah dengan puasa Ramadhan, kita mampu menahan ambisi yang tidak  terpuji. Apakah  dengan  puasa Ramadhan, kita mampu mengendalikan ang- kara murka yang merugikan sesama. Apakah dengan puasa Ramadhan, kita mampu menyingkirkan keben-
cian dan rasa dendam diantara kita. Apakah dengan puasa Ramadhan, kita mampu menjauhkan diri dari adu domba dan provokasi massa. Atau, justru malah sebaliknya. Sehingga ibadah puasanya tidak membekas sama sekali pada kehidupan sehari-hari. Di Era Globalisasi ini, permasalahan hidup umat manusia semakin ruwet. Berbagai persoalan yang semakin rumit bermunculan silih berganti. Diantara masalah-masalah besar yang dihadapi bangsa Indonesia ialah jeritan tangis karena kemiskinan dan kemelaratan; Sulitnya untuk mendapatkan kesempatan kerja dan masih adanya pengang- guran; Ambisi jabatan dan pangkat yang cara mendapatkannya sampai melupakan aturan dan etika; Perti- kaian dan perpecahan; Penjarahan dan kerusuhan; Pembunuhan dan pemerkosaan; Penyiksaan dan peram- pasan; Rebutan harta dan makanan; Melangitnya harga kebutuhan pokok yang tak terkejar oleh kebanyakan masyarakat kecil Dan, masih banyak lagi persoalan-persoalan besar lain- nya berupa musibah dari Allah yang bertubi-tubi dengan silih berganti. Semua itu tidaklah berdiri sendiri, akan tetapi sangat erat hubungannya dengan hukum sebab akibat atau disebabkan oleh perbuatan manusia yang dhalim terhadap dirinya dan terhadap lingkungannya, lebih-lebih kepada  Tuhannya. Mereka lupa, tidak mau bersyukur atas nikmat Allah Swt yang telah diberikan kepadanya. Hal itu telah ditegaskan di dalam al Qur’an surat Ibrahim 7: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih”.(QS. Ibrahim [14]: 7). Saudara-saudara, pada hakekatnya kehidupan manusia yang semakin ruwet itu berpangkal pada makin gelapnya hati nurani manusia. Sema- kin tidak jelas arah hidupnya. Semakin jauh dari rasa syukur terhadap pem- berian dari Tuhannya. Integritas dan identitas pribadinya telah hilang. Mereka telah kehilangan makna dirinya. Sifat hewaniahnya telah menguasai kehidupannya. Tidak ada rasa solider di antara sesama. Egois. Hanya berfikir perut atau kelom- poknya sendiri. Kurang, kurang dan kurang saja jadinya. Kalau sudah demikian ini keadaan manusia, bukan hatinya yang berbicara, melainkan nafsunya yang angkara murka. Inilah yang disebuthilangnya fitrah insani.  Kita harus menjadikan ibadah puasa sebagai laboratorium, guna membangun manusia baru yang memiliki kekuatan dan semangat besar. Membangun bersama Negara Indonesia di Era Globalisasi ini. Kita jadikan diri kita sebagai benteng-benteng yang perkasa, dengan memperkokoh iman dan taqwa. Memperteguh persatuan dan kesatuan untuk membangun bangsa dan Negara Indonesia. Jangan hanya pandai mencari-cari kesalahan orang lain. Dan jangan merasa tidak bersalah.  Jangan egois dan saling memecah belah. Mari kita perhatikan firman Allah: “Dan  berpeganglah  kamu semuanya kepada tali (agama) Al- lah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu. Lalu menjadilah kamu karena nikmat Al- lah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi ju- rang  neraka, lalu  Allah menyelamatkan kamu dari pada nya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. “(QS. Ali Imran [3]: 103). Kemiskinan dan keterbelakangan bangsa Indonesia masih sangat terasa. Itu menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintrah dan ma- syarakat. Itu menjadi tanggung jawab bersama antara Umarok dan Ulama’. Yang kuat membantu yang lemah. Yang kaya – membantu yang miskin. Yang miskin menghormati yang kaya. Sehingga lahirlah rasa timbal balik yang indah dan damai antara kedua belah fihak itu. Terpadu dua sifat yang  mulia, kasih sayang dan penghormatan. Saudara-saudara Yang Berbahagia Salah satu tanda-tanda orang bertaqwa adalah, sanggup menafkahkan hartanya (di jalan Allah) baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an Surat Ali Imran ayat 134: “…(muttaqin itu ialah) orang yang sanggup mengeluarkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit.” (QS. Ali Imran [3]: 134) Mereka menjadi orang yang dermawan, penyayang, belas kasihan terhadap sesama, berjiwa besar, berjiwa pembangun, kreatif, berdedikasi tinggi, jujur, ama- nah dan penuh tawakkal kepada Allah Swt. Inilah manusia baru yang sangat berguna bagi bangsa Indonesia. Jiwa manusia seperti ini yang sangat dibu- tuhkan oleh pemerintah untuk diajak bersama membangun bangsanya yang sedang mengalami berbagai kesulitan hidup. Apabila bangsa Indonesia telah memiliki  jiwa dan semangat yang mulia seperti itu, insya Allah Negara Indonesesia   menjadi adil makmur, sejahtera, aman, tentram dan damai. Adil dalam kemakmuran, dan makmur dalam  keadilan. (*)



Last Update: 20-08-2014 03:02

 [Indeks]
Home | Profil | Daftar donator | LSES | Berita | Kontak
Visit us Online:  Facebook Youtube
Hak Cipta 2013 LAZIS Sabilillah Malang