Renungan

Pengorbanan Kunci Kesuksesan Menggapai Kasih Allah SWT Oleh: Ust. Ahsan Subur

Dalam istilah bahasa jawa, bulan ini adalah wulan besar yang didalamnya terdapat riyoyo besar.

PUJI syukur kepada Allah SWT yang masih menganugerahkan kepada kita umur yamg panjang, ruang dan waktu sehingga kita masih kita masih dapat menghirup udara segar dibulan yang penuh makna dan keberkahan yang mengalir didalamnya. Dalam istilah bahasa jawa, bulan ini adalah wulan besar  yang didalamnya terdapat  riyoyo besar.  Tentu- nya kalimat tersebut bukanlah kalimat yang tanpa makna dan
hanya hasil karangan belaka, yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Justru sebaliknya, disitu terdapat makna yang bisa membuat kita lebih mudah untuk memahami peristiwa apa yang terjadi dibulan tersebut dan apa filosofinya. Dikatakan wulan besar (bulan yang agung) karena didalamnya terdapat peristiwa yang sangat agung yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan pernah terjadi lagi sampai kapanpun. Yaitu: diujinya hamba Allah SWT dengan ujian yang sangat berat. Bisa kita bayangkan betapa beratnya ujian tersebut, setelah lama mendambakan seorang
putra, kemudian dikaruniailah putra yang sempurna segalanya, baik rupa dan budi pekertinya. Belum lama bisa membelainya lalu turunlah wahyu untuk men- gorbankan/ menyembelihnya. Bagaimana kira-kira kalau hal tersebut terjadi kepada kita?. Dialah Nabi Ibrahim AS diperintahkan menyembelih putra tercintaNya yaitu : Nabi Isma’il AS. Sejarahnya adalah bermula dari ujian paling berat yang menimpa Nabiyullah
Ibrahim. Disebabkan kesabaran dan ketabahan Ibrahim dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan, Allah member- inya sebuah anugerah, sebuah kehormatan  “Khalilullah” (kekasih Allah). Setelah titel Al-khalil disandangnya, Malai- kat bertanya kepada Allah: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menjadikan Ibrahim sebagai kekasihmu. Padahal ia disibuk- kan oleh urusan kekayaannya dan keluarganya? ” Allah berfirman: “Jangan menilai hambaku Ibrahim ini dengan ukuran lahiriyah, tengoklah isi hatinya dan amal bhakti- nya!”. Kemudian Allah SWT
mengizinkan para malaikat menguji keimanan serta ket- aqwaan Nabi Ibrahim. Ternyata, kekayaan dan keluarganya dan tidak membuatnya lalai dalam taatnya kepada Allah. Dalam kitab “Misykatul Anwar” disebutkan bahwa konon, Nabi Ibrahim memiliki kekayaan 1000 ekor domba, 300 lembu, dan 100 ekor unta. Riwayat lain mengatakan, kekayaan Nabi Ibrahim mencapai 12.000 ekor ternak. Suatu jumlah yang menurut orang di zamannya adalah ter- golong milliuner. Ketika pada suatu hari, Ibrahim ditanya oleh seseorang  “milik siapa ternak sebanyak ini?” maka dijawabnya: “Kepunyaan Al- lah, tapi kini masih milikku. Sewaktu-waktu bila Allah menghendaki, aku serahkan semuanya. Jangankan cuma ternak, bila Allah meminta anak kesayanganku, niscaya akan aku serahkan juga.”. Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Qur’anul ‘adzim mengemukakan bahwa, pernyataan Nabi Ibrahim itulah yang kemudian dijadi- kan bahan ujian, yaitu Allah menguji Iman dan Taqwa Nabi Ibrahim melalui mimpinya yang haq, agar ia mengorbankan putranya yang kala itu masih berusia 7 tahun. Anak yang elok rupawan, sehat lagi cekatan ini, supaya dikorbankan dan disembelih dengan menggunakan tangan- nya sendiri. Sungguh sangat mengerikan! Peristiwa itu dinyatakan dalam Al-Qur’an Surah As-Shoffat : 102 : Arti- nya: Ibrahim berkata : “Hai anakkku sesungguhnya aku
melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu “maka fikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepad- amu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”(QS As-shaffat: 102). Ketika keduanya siap untuk melaksanakan perintah Allah. Iblis datang menggoda sang ayah, sang ibu dan sang anak silih berganti. Akan tetapi Nabi Ibrahim, Siti hajar dan Nabi Ismail tidak tergoyah oleh bujuk rayuan iblis yang menggoda agar membatalkan niatnya. Bahkan siti hajarpun mengatakan, : ”jika memang benar perintah Allah, akupun siap untuk di sembelih sebagai gantinya ismail.” Mereka  me- lempar iblis dengan batu, men- gusirnya pergi dan Iblispun lari tunggang langgang. Dan ini kemudian menjadi salah satu rangkaian ibadah haji yakni melempar jumrah; jumrotul ula, wustho, dan aqobah yang dilaksanakan di mina. Setelah sampai disuatu tempat, dalam keadaan tenang Ismail berkata kepada ayahnya : ”ayah, ku harap kaki dan tanganku diikat, supaya aku tidak dapat bergerak leluasa, sehingga menyusahkan ayah. Hadapkan mukaku ke tanah, supaya tidak melihatnya, sebab kalau ayah melihat nanti akan merasa kasihan. Lepaskan bajuku, agar tidak terkena darah yang nantinya menimbulkan kenangan yang menyedihkan.  Asahlah tajam- tajam pisau ayah, agar penyem- belihan berjalan singkat, sebab sakaratul maut dahsyat sekali.
(Bersambung)
 



Last Update: 20-09-2014 01:35

 [Indeks]
Home | Profil | Daftar donator | LSES | Berita | Kontak
Visit us Online:  Facebook Youtube
Hak Cipta 2013 LAZIS Sabilillah Malang