Renungan

Nyawa, Adalah Modal Amal Paling Utama

HIDUP itu bagi orang muslim yang beriman adalah kesempatan emas untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT. Memperbanyak amal kebaikan, menabur kebaikan di akhirat, memperbanyak pahala di sisi Allah SWT.

Dan modal untuk bisa melaku- kan semua itu adalah hidup (NYAWA). Memang bukan hanya nyawa yang bisa men- jadi modal, di antaranya ilmu, dengan ilmu kita bisa mem- bedakan mana yang baik dan mana yang buruk, akan tetapi orang yang berilmu tapi tidak bernyawa pasti tidak akan bisa melakukan hal itu, selain ilmu ada juga yang kita butuhkan yaitu harta benda (kekaya’an) di mana dengan harta benda kita bisa membantu orang yang lebih membutuhkan, tetapi sekali lagi, orang yang kaya raya namun tidak bernyawa tentu juga tidak akan bisa melakukan hal itu semua. Itulah kenapa Nyawa (kehidupan) di katakan modal amal paling utama. Oleh karenanya, mumpung kita masih di berikan nyawa dalam diri kita, marilah ber- lomba – lomba untuk memper- banyak amal kebaikan. Sung- guh sangat di sayangkan bagi
mereka yang masih bernyawa tapi tidak memanfa’atkan untuk melakukan kebaikan, karena nilai terbesar dalam hidup itu adalah ibadah kepada Allah SWT, sepeti firman Allah yang artinya “ Tiadalah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar beribadah kepada-Ku “. (QS. Adz-Dzariat 56 ). Salah satu cara kita untuk memper- banyak ibadah kepada Allah SWT yaitu selalu bersyukur atas apa yang di berikan oleh Allah SWT kepada kita, baik itu dalam bentuk kesenangan ataupun kesusahan karna di balik semua kejadian baik itu senang ataupun susah pasti akan ada Hikmahnya.
Singkat cerita (kisah nyata) Ada seseorang bernama
fulan yang melakukan perjala- nan yang cukup jauh bersama dengan anak dan istrinya. Dalam perjalanannya, si fulan ini harus melewati sebuah perkebunan yang sangat jauh dari pemukiman warga. Di ten- gah perjalanannya itu, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya dan ban sepeda yang mereka naiki itu bocor padahal waktu sudah menunjukkan malam hari, reflek si fulan berkata “ waduh ban ku bocor, kok iso se,,salah udan-udan pisan! (waduh ban ku bocor, kok bisa sih,,ke’adan hujan lagi!) “ kata si fulan sambil mengeluh. Ha- tinya sangat merasa kecewa. Setelah berjalan cukup jauh barulah si fulan melihat ada tu- kang tambal ban yang sedang duduk menunggu pelanggan. Tanpa berfikir panjang, si fulan menambalkan ban sepedanya
yang bocor pada bapak yang sedang duduk tadi. Sambil menambal ban, bapak ini ber- cerita sedikit tentang kerja ker- asnya dan kesulitannya dalam hidup. Si bapak  penambal ban juga bercerita kepada si fulan bahwa mulai tadi pagi sampai malam hari si bapak penambal ban ini belum juga mendapat- kan rizki sepeserpun karena belum ada pelanggan yang datang untuk menambalkan ban kepada bapak itu. Seiring dengan selesainya cerita bapak tersebut maka selesai pula proses menambal ban yang bocor milik si fulan. Setelah mendengar cerita dari bapak si penambal ban itu tadi, barulah si fulan sadar bahwa di balik kesusahan yang dia alami ada hikmah yang tersembunyi, karena dengan ban sepeda motornya yang bocor tadi si fulan dapat membantu orang lain yang sedang membutuhkan. Secara tidak langsung, si fulan telah menjadi perantara dengan memberikan rizki pada orang lain yang lebih membutuhkan. Semoga dengan sedikit cerita di atas dapat memoti- vasi kita agar tetap bersyukur dalam keada’an apapun, Amin. (*



Last Update: 30-04-2015 02:16

 [Indeks]
Home | Profil | Daftar donator | LSES | Berita | Kontak
Visit us Online:  Facebook Youtube
Hak Cipta 2013 LAZIS Sabilillah Malang