Minuril Islam

HATI NURANI Oleh : Drh. KH. M. Zainul Fadli, MKes (bag 2)

HAL ini membuktikan, sekaligus sebagai konsekuensi dan komitmen keimanan yang telah kita nyatakan. Selanjutnya Rasulullah membedakan hati manusia itu menjadi 4 macam seperti dijelaskan dalam sebuah Hadits riwayat Imam Ahmad dan Thabrani dari sahabat Abi Saied Al-Khudri:

“Hati manusia itu ada 4 macam yaitu : 1. Hati yang bersih dan selalu memancarkan sinar terang, itulah hatinya orang mu’min, 2. Hati yang hitam dan berkabut, itulah hatinya orang kafir, 3. Hati yang tertutup dan terkunci, itulah hatinya orang munafik, 4. Hati yang terbuka, di dalamnya ada iman sekaligus juga ada kemunafikan.” Berdasarkan pengelompokan dalam Ha- dits tersebut kita dapat melakukan penilaian terhadap hati nurani  kita masing-masing. Termasuk kelompok mana sebenarnya nurani kita ini. Tentu kita tidak ingin memiliki nurani yang hitam (seperti orang kafir) apalagi yang terkunci (seperti orang munafik), namun untuk menjadi nurani yang benar-benar bersih dan selalu memancarkan sinar tampaknya tidaklah mudah. Kemungkinan terbesar posisi kita berada di kelompok empat, yaitu kita sering melakukan aktivitas-aktivitas keimanan, namun masih sering pula melakukan pelang- garan dan kemaksiatan yang mengotori hati nurani. Oleh sebab itu kita harus rajin melaku- kan pembersihan dengan memperbanyak istighfar dan pertaubatan. Mudah-mudahan Allah SWT berkenan mengampuni dosa-dosa dan menerima taubat kita. Amin. Beberapa waktu belakangan ini kita sering mendengar banyak orang menganjurkan agar menggunkan hati nurani dalam melangkah dan mengambil keputusan. Anjuran ini memang terasa mudah di ucapkan, namun sebenarnya sangatlah sulit untuk dilak- sanakan, apalagi oleh orang yang masih sering melakukan kemaksiyatan sehingga hatinya menjadi penuh kotoran. Bagaimana mungkin seseorang dapat menggunakan hati nurani kalau dia masih berani berbohong, menipu, berkhianat,
mengingkari janji, dzalim, bahkan serakah terhadap harta dan jabatan. Semua itu adalah kotoran-kotoran yang menutup dan melemahkan suar kebenaran dari hati nurani. Seringkali karena tergiur oleh kesenangan duniawi,terobsesi oleh keser- akahan untuk meraih jabatan atau untuk menumpuk harta, seseorang menjadi rela untuk mengingkari suara nuraninya sendiri. Banyak orang yang memperalat agamanya hanya sekedar di- jadikan sebagai alat politik untuk berebut kekuasa’an. Banyak pula orang yang rela menggadaikan iman dengan cara melaku- kan kecurangan, korupsi dan penghianatan hanya untuk meraih dan menumpuk-numpuk harta kekayaan. Na’udzu billah tsumma na’udzubillah. Orang yang sudah tertutup mata hatinya karena terlalu banyak kedurhakaan yang dilakukan, akan sangat sulit menerima ke- benaran dari manapun datangnya. Jangankan dari orang lain, bahkan kebenaran dari hati nuraninya sendiripun dia abaikan. Orang semacam inilah yang diterangkan oleh Allah di dalam Surat Al-Hajj ayat 46:
46.  Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesung- guhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. Yang dimaksud dengan ta’mal quluub (buta nurani) adalah hati yang telah berkarat karena tertimbun oleh kotoran, sehingga tidak dapat lagi melihat kebenaran dengan jelas.
Hati nurani yang berkarat sering pula disebut oleh Allah dengan istilah qoswah (hati yang keras), dan berkali-kali Allah mengingatkan agar kita jangan sampai memiliki hati yang keras seperti ummat-ummat terdahulu (misalnya bani Israil). Hal ini dapat kita perhatikan pada Surat Al-Maa’idah ayat 13:
13.  (tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. mereka suka merobah Perkataan (Allah) dari tempat- tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperin- gatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) Senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Juga pada Surat Al-Hadiid ayat 16:
(Bersambung)
 



Last Update: 20-08-2014 02:05

 [Indeks]
Home | Profil | Daftar donator | LSES | Berita | Kontak
Visit us Online:  Facebook Youtube
Hak Cipta 2013 LAZIS Sabilillah Malang