Lain-lain

Konsultasi Agama Islam Edisi Agustus 14 (2)

Tidak Puasa Karena Melahirkan, Wajibkah Mengqadlanya ?

Assalamualaikum wr wb. Yai saya adalah seorang ibu yang baru saja melahirkan dan sedang menyusui, tepatnya di tengah bulan ramdhan saya melahirkan, sebelum melahirkan saya masih sempat berpuasa selama 10 hari dan berarti saya tidak berpuasa selama kurang lebih 20 hari, Alhamdulillah saya sudah mem- bayar fidyah, namun ada sedikit ganjalan dihati karena beberapa kerabat menyarankan untuk tetap mengqada puasa meskipun sudah membayar fidyah. Terkait hal ini mohon penjelasan dari yai. Bagaimanakah hukum dan ketentuan fidyah sebenarnya? Haruskah saya tetap mengqada puasa selama 20 hari atau tidak? Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan banyak terimakasih atas penjelasan dari Yai. Wassalamualaikum wr. wb Nisa, Claket.

Jawaban.

Dalam Al Qur’an telah disyari’atkan tentang kewajiban puasa Ramadlan bagi seorang mukmin, baik laki maupun perempuan. Demikian pula ten- tang rukhshah (kebolehan tidak berpuasa bagi seseorang karena udzur) dan apa saja penggantinya telah jelas dalam Surat Al Baqarah ayat 184 Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjala- nan (lalu ia tidak puasa) maka  (wajiblah baginya perpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari hari yang lain. Dan wajib bagi orang orang yang berat menjalankannya (bila mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Dari ayat tersebut mengandung ketentuan hukum : 1. Bagi orang yang karena sakit atau sedang bepergian, kemudian tidak berpuasa maka ia wajib mengganti berpuasa sebanyak hari ia tidak berpuasa pada hari yang lain di luar bulan Ramadlan. 2. Bagi orang yang berat berpuasa, baik di bulan Ramad- lan maupun di bulan yang lain, misalnya orang jompo, orang sakit kronis dan sebagainya yang tidak kuat berpuasa, maka ia wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan kepada seorang miskin. 3. Menurut hukum fiqih, wanita yang sedang menyusui anaknya, lalu ia tidak berpuasa karena mengkhawatirkan kes- ehatan dirinya, maka ia wajib mengqadla puasanya. Tetapi apabila ia  tidak perpuasa karena mengkhawatirkan kesehatan dirinya dan anaknya, maka ia wajib mengqadla puasanya dan membayar fidyah. Dari ketentuan tersebut di atas akan jelas posisi Ibu, termasuk orang yang udzur karena sakit, yang wajib meqadla puasa,  udzur karena tidak kuat berpuasa, yang wajib membayar fidyah atau karena udzur menjaga kesehatan diri dan anak Ibu, yang wajib mengqadla puasa dan membayar fidyah. Menurut penilaian kami Ibu wajib mengqadla puasa se- banyak hari Ibu tidak berpuasa. Wallahu A’lam. (*)



Last Update: 20-08-2014 03:51

 [Indeks]
Home | Profil | Daftar donator | LSES | Berita | Kontak
Visit us Online:  Facebook Youtube
Hak Cipta 2013 LAZIS Sabilillah Malang