Lain-lain

Konsultasi Psikologi Parenting Oleh: Muhammad Mahpur - Aug 14

Sosialisasi; Lingkungan Sosial Ramah Anak

BERITA heboh akhir-akhir ini, bahkan bisa disebut sebagai bencana pada anak adalah kasus kekerasan terhadap anak, baik dalam bentuk kejahatan dan pelecehan seksual. Peristiwa itu terjadi tanpa batas ruang. Yang paling mengejutkan bahwa kejahatan atau pelecehan seksual terjadi di ruang tempat anak-anak bersosialisasi, seperti sekolah. Bahkan di rumah yang seharusnya menjadi tempat aman bagi anak, pun tidak men- jamin anak bebas dari kejahatan dan pelecehan seksual Sudah tidak amankah ru- ang sosialisasi anak hari ini?  Mengaca peristiwa tragis yang mengorbankan anak-anak, patut kiranya para orang tua atau guru untuk lebih waspada. Ruang sosialisasi anak perlu dijamin agar ramah terhadap anak. Bagaimanapun anak membu- tuhkan pelajaran hidup untuk siap menjadi bagian dari dunia sosial, ekonomi, budaya, fisik dan eksrafisik. Di sinilah anak membutuhkan wadah bersosia- lisasi. Sebagaimana dijelaskan oleh Marshall (1994) sosialisasi merupakan proses perubahan atau perkembangan yang ter- jadi pada setiap anak untuk mempelajari lingkungan sosial mereka sehingga anak mampu belajar interaksi sosial. Dunia sosialisasi menjadi salah satu kebutuhan tumbuh-kembang anak, tetapi kerentanan hubun- gan sosial baik sesama teman sebaya atau terhadap orang yang lebih dewasa sangat mungkin terjadi sehingga tetap perlu diawasi dan dikondisikan anak
berada dalam situasi aman. Sosialisasi yang aman mem- butuhkan pengawasan orang tua, guru di sekolah atau kesadaran orang dewasa lain terhadap hubungan sosial anak. Terkait peristiwa yang rawan hari ini, pengawasan orang dewasa terhadap anak membutuhkan kewaspadaan berlapis. Orang tua janganlah abai dan mem- percayakan bentuk-bentuk pengawasan anak pada orang kedua karena alasan waktu atau bekerja. Pengawasan yang positif dilakukan orang tidah sebatas memantau siapa teman, orang-orang terdekat yang setia bersama anak, terutama me- waspadai peran orang di sekitar anak, melainkan meningkatkan intensitas komunikasi interaktif dengan anak. Melalui komuni- kasi intensif dengan anak, orang tua diharapkan mampu mema- hami peristiwa yang dihadapi anak dan mulai jeli ketika kuali- tas informasi anak mulai tidak baik, kecurigaan tidak berterus terang dan situasi sensitif anak yang perlu dipahami secara mendalam oleh orang tua. Catatan terkini atas peristiwa kejahatan anak yang kian me- ningkat, orang tua dan orang yang peduli terhadap proses pematangan perkembangan sosial anak perlu menciptakan ruang sosialisasi yang sehat. Kondisikan anak memiliki dunia bermain dan berhubungan dengan teman- teman sebayanya secara terbuka. Hindari ruang privasi anak secara berlebihan atau ciptakan ruang sosial di lingkungan rumah atau di sekolah yang memudahkan orang lain melihat dan mengawasi hubungan sosial anak. Demikian juga fasilitas layanan publik seperti sekolah atau gedung sosial yang sering digunakan anak-anak juga mem- pertimbangkan unsur aman dan mendukung model sosialisasi yang sehat bagi anak. Perenca- naan ruang seperti toilet juga perlu diletakkan pada tempat yang mudah diawasi. Boleh jadi untuk meningkatkan pence- gahan dini, toilet anak-anak dan orang dewasa perlu dip- isahkan. Selain itu, sosialisasi anak juga mempertimbangkan bentuk-bentuk hubungan sosial yang produktif bagi anak. Oleh karena itu dibutuhkan ruang publik kolektif bagi anak yang memiliki stimulus (rangsan- gan) agar anak bisa terkondisi produktif, seperti alat outbond, permainan kreatif, atau hubun- gan kekaryaan yang semuanya dapat dikondisikan, baik secara terencana atau seting alamiah. Semua orang perlu menyadari bahwa ruang publik anak dicip- takan sebagai media sosialisasi. Kebutuhan preventif agar anak terbebas dari ancaman keja- tahan dan kekerasan yang tidak diinginkan, ruang publik anak sebaiknya juga berada dan dicip- takan dalam lanskap bangunan yang mudah orang dewasa mem- beri pengawasan. Oleh karena itu sudah saatnya setiap perencanaan bangunan baru, baik sekolah atau perumahan, memenuhi unsur yang mempermudah pengawasan orang dewasa dan standar keamanan dari kemung- kinan bentuk-bentuk kejahatan atas hubungan sosial anak, baik dengan teman sebaya atau orang dewasa lainnya. Konsep ini sudah saatnya tidak boleh diabaikan. Semua orang menyadari bahwa anca- man kejahatan terhadap anak juga disumbangkan oleh abai- nya intensitas pengaw asan, mengendurnya ko munitasi intensif, pengadaan fasilitas publik dan hubungan sosial yang tidak mempertimbangkan keramahan terh adap kepentin- gan anak. Semoga kewaspadaan ini mamp u menggugah kesada- ran bersama untuk menjamin lingkungan sosial yang ramah bagi perkembangan anak yang sehat. (*)



Last Update: 20-08-2014 03:55

 [Indeks]
Home | Profil | Daftar donator | LSES | Berita | Kontak
Visit us Online:  Facebook Youtube
Hak Cipta 2013 LAZIS Sabilillah Malang