Lain-lain

Konsultasi Psikologi Parenting Oleh: Muhammad Mahpur - September 14

Menyeimbangkan Peran Ayah dalam Pengasuhan

SOSOK yang paling banyak memerankan fungsi pengasuhan bagi orang Indonesia adalah ibu, meskipun fakta lain peran ayah juga tidak bisa diabaikan. Pada kali ini kita akan sedikit mengulas peran ayah didalam pengasuhan. Saya teringat ha- sil penelitian disertasi seorang kolega, Sakdiyah (2014). Dia menemukan jika kelekatan ayah memiliki peranan penting dalam membentuk perilaku sehat anak (remaja) sebanyak 33 persen setelah ibu, 35 persen, selebih- nya figur kelekatan ada di teman sebayanya. Itu artinya, anak atau remaja akan mencari dukungan terdekat dalam menyelesaikan masalah dan perkembangan hidupnya. Ayah memiliki peran signifi- kan yang tidak bisa diabaikan. Rentetan peran ini dapat mem- berikan sumbangan terhadap kebahagiaan anak. Apalagi jika anak tumbuh dalam keluarga utuh, yakni adanya kehadiran ibu dan ayah secara lengkap. Kelekatan ayah dan anak menunjukkan hubungan kualitatif dalam membantu perkembangan anak. Hubungan itu dapat berbentuk emosional, tutorial/mentoring atau per- temanan/bermain. Anak yang memiliki intensitas hubungan yang berkualitas dengan ayah akan menemukan model posi- tif berdasarkan perkembangan seksualitas anak. Ayah yang laki-laki memberikan referensi bagaimana anak memiliki figur peran yang langsung sehingga membantu perkembangan kematangan seksualitas anak.
Anak bisa membedakan dan menyamakan ciri-ciri seksuali- tasnya. Perbedaan ini membu- tuhkan figur dan penjelasan bagi orang tua. Hal ini akan berdam- pak positif bagi pengetahuan pematangan seksualitas anak. Selain itu, hubungan emo- sional, tutorial (pembimbingan) dan pertemanan/bermain yang menandai kualitas kelekatan orang tua memberikan ke- seimbangan proses berbagi kebahagiaan anak karena figur pendampingnya tidak melulu ibu. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan dengan demikian menjadi penyeimbang dari per- an ibu. Ia akan membantu peran ibu disaat mengalami born- out (kelelahan psikologis karena peran yang monoton). Peran ayah dengan begitu menuntut peran yang tidak saja sebagai kepala rumah tangga. Ayah terlibat untuk peran dalam pen- gasuhan. Pada kondisi tersebut ayah dapat berperan sebagai pengolah dan menjembatani hubungan anak dan ibu (Parke, 2002) agar hubungan di antara orang tua-anak tetap berkuali- tas. Keterlibatan ayah menjadi penyeimbang emosional, pem- beri perhatian dan kehangatan di saat kebutuhan itu sedang menurun pada ibu. Kondisi ini menopang kelekatan yang tetap menyeimbang- kan ketika kelekatan kepa- da ibu juga menurun. Hubungan ayah-anak dapat dibangun pada setiap hari setelah bekerja atau hari-hari libur yang di-
manfaatkan untuk kepentingan anak. Peran-peran yang diambil oleh ibu yang biasanya dominan dapat juga dibagikan dengan ayah. Oleh karena itu, ayah dan ibu setidaknya mempunyai waktu untuk mengondisikan hubungan yang menyeimbang- kan diantara peran-peran yang berbeda. Ayah pun mengetahui disaat mana kehadirannya sangat dibutuhkan. Dalam penelitian di beberapa negara, keseimbangan peran, khususnya peran ayah terletak di keter- libatan ayah jauh lebih tinggi pada kegiatan bermain daripada ibu (Parke, 2002). Sementara ibu, lebih condong ke bentuk aktifitas bermain pasif. Hal ini menunjukkan jika partisipasi aktif ayah dalam membesarkan anak akan berdampak pada peningkatan keterlibatan pada anak-anaknya di kemudian hari, lebih bertanggungjawab, lebih hangat dan mampu memberikan pengawasan pada anak lebih baik (Parke, 2002). Bervariasinya keterlibatan ayah dan ibu dalam pen- gasuhan meno- pang kualitas perkembangan anak. Hubungan melekat ayah pada anak yang tercipta sejak dini akan memberi-
kan kontribusi terhadap rasa aman dan hubungan saling percaya. Kualitas hubungan semacam ini akan memudahkan orang tua, atau khususnya ayah, untuk memonitoring perkem- bangan anak dan mengontrol perilaku secara memadahi tanpa konfrontasi yang menyebabkan hubungan konflik. Pengawasan dan kendali perilaku dari orang tua ke anak dengan demikian lebih condong dapat diterima karena fungsi nasihat dan pembimbingan  dijalan dengan lebih komunikatif dan interaktif. Hal ini didasari oleh kebiasaan keterlibatan peran ayah dalam pengasuhan sebagai fundasi hubungan yang lebih mencair dan rileks. Di tengah budaya patriarkhi dan dominasi pengasuhan di ibu, semoga dengan artikel ini, para ayah, termasuk saya untuk belajar hadir lebih intensif un- tuk peran-peran pengasuhan yang berbeda dan mampu menjadi penyeimbang diantara peran-peran ibu yang boleh jadi dapat saling diper- tukarkan. (*)



Last Update: 20-09-2014 01:54

 [Indeks]
Home | Profil | Daftar donator | LSES | Berita | Kontak
Visit us Online:  Facebook Youtube
Hak Cipta 2013 LAZIS Sabilillah Malang