Strategi Distribusi Zakat Fitrah LAZIS Sabilillah

03-07-2018 09:22
ZAKAT merupakan salah satu kewajiban yang wajib ditunaikan bagi umat Islam. Selain untuk membersihkan harta, zakat juga memiliki fungsi sosial, ini dapat dilihat dari penyaluran distribusi zakat yang mencakup delapan asnaf yaitu : fakir, miskin, amil, mualaf, riqab, fisabilillah dan ibnu sabil.

ZAKAT merupakan salah satu kewajiban yang wajib ditunaikan bagi umat Islam. Selain untuk membersihkan harta, zakat juga memiliki fungsi sosial, ini dapat dilihat dari penyaluran distribusi zakat yang mencakup delapan asnaf yaitu : fakir, miskin, amil, mualaf, riqab, fisabilillah dan ibnu sabil. Kedelapan golongan ini secara syara’ adalah orang yang berhak menerima zakat. Hal ini merupakan salah satu upaya Islam dalam mengentaskan kemiskinan. Geliat zakat biasanya terlihat meriah ketika dalam bulan Ramadhan. Maka bulan Ramadhan disebut juga bulan zakat di mana umat Islam berbondong-bondong menyalurkan zakatnya, khususnya zakat fitrah (zakat jiwa) tempat penerimaan zakat itu berada. Di sisi lain komunitas, kelompok, organisasi, lembaga, instansi, lembaga pendidikan swasta negeri, masjid, mushala, pondok pesantren, lembaga sosial, hingga pada RW atau RT dan lain sebagainya. Semuanya berlomba mendirikan dan membentuk panitia zakat, khususnya zakat fitrah. Harapannya bisa menyalurkan sendiri sesuai harapan dan keinginan sesuai hukum syar’i penyaluran zakat yang dipahaminya. Perlu aturan yang jelas tentang siapa panitia yang berhak menghimpun zakat fitrah dan bagaimana aturan pendistribusiannya. Tujuannya agar zakat bisa tercapai. Ini perlu ditata dan ditertibkan oleh pemerintah sesuai UndangUndang No 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. Penertiban itu agar penerimaan zakat dan distribusinya bisa terarah dan tertata lebih baik. Distribusi zakat fitrah sepertinya mudah dilakukan siapa saja. Tinggal bagi rata selesai. Namun tidaklah demikian yang dimaksudkan pendistribusian zakat. Zakat diharapkan mampu memberikan manfaat pada penerimanya dalam jangka panjang. Begitu juga zakat fitrah. Seperti yang kita tahu bahwa zakat fitrah itu harus didistribusikan pada yang berhak menerima pada malam 1 Syawal. Dengan harapan pada malam itu jangan sampai ada fakir miskin yang tidak bisa makan dan tidak bisa membayar zakat fitrah. Dengan pola pemikiran yang seperti itu maka para panitia dadakan tidak bisa berpikir panjang. Yang penting malam ini habis terdistribusikan selesai. Masalah fakir miskin tidak bisa makan besok atau lusa, bukan lagi urusan tanggung jawab panitia lagi. Inilah yang menjadi dasar pola pemikiran dan pola distribusi Lembaga Amil Zakat Sabilillah (LAZIS) hingga saat ini. Apa yang di lakukan LAZIS dengan zakat fitrah? LAZIS telah merencanakan distribusi zakat fitrah sejak awal bulan Ramadhan yakni mendata siapa saja mustahik yang berhak menerima zakat fitrah dan bagaimana teknis pendistribusiannya hingga sampai pada mustahik serta mengatur pola pendistribusiannya dan menghitung seberapa lama beras fitrah akan dimanfaatkan. Bahkan ada sasaran khusus yang beras fitrah itu bisa dirasakan oleh mustahik hingga selama satu tahun. Secara teknis, distribusi dibagi menjadi beberapa paket. Paket khusus, adalah para lansia atau orang yang setiap hari. Makannya tergantung dari pemberian tetangga. Para lansia atau orang dengan kategori tersebut diberikan beras selama satu tahun. Perhitungannya, satu orang satu bulan kebutuhan beras 6,25 kg. Jadi satu tahun 75 kg/orang. Paket satu adalah beras yang diberikan untuk para mustahiq binaan LAZIS Sabilillah, yakni keluarga anak asuh dan Fisabilillah. Seperti para imam-imam langgar mushala, guru TPQ, para pekerja di masjid. Bagian ini akan mendapatkan 25 kg/orang. Paket dua adalah beras yang diberikan kepada pengajuan lembaga sosial. Seperti panti asuhan, tunanetra, panti jompo. Ini akan diberikan porsi 25 – 50 kg/lembaga. Paket dua mengutamakan lembaga sosial di luar Kota Malang. Paket tiga, adalah distribusi beras yang diberikan kepada warga miskin di lingkungan terdekat Masjid Sabilillah. Paket ini adalah sebesar 2,5 - 5 kg per orang dan penyalurannya melalui agen –agen sosial yang berada di wilayah sekitar masjid. Secara umum penyaluran beras fitrah LAZIS Sabilillah dibagi dua bagian yaitu penyaluran langsung. Yakni, penyaluran yang langsung diterima mustahiq pada hari tersebut. Besaran penyaluran ini adalah paket satu dua dan tiga. Kedua, penyaluran tidak langsung. Yaitu penyaluran khusus pada lansia kategori khusus. Penyaluran ini bekerjasama dan melibatkan warung atau toko terdekat di wilayah lansia berada. Teknis penyaluran beras fitrah pada lansia khusus adalah dengan menitipkan atau meminjamkan sejumlah beras (75kg) kepada warung atau toko terdekat untuk dijual seperti biasanya dan dikembalikan secara bertahap (6,25kg/bulan) kepada lansia sasaran khusus. Setiap tahun LAZIS telah menyusun distribusi zakat fitrah sebanyak + 7 ton. Ini merupakan permasalahan sekaligus tantangan distribusi untuk menyalurkan tepat sasaran. (*)