Wisuda Madrasatul Quran Lansia Pertama di Masjid Sabilillah

03-10-2018 04:57
Salah satu peserta khotaman simbolis menerima ijazah Khotam dari Prof. DR KH M.Tholchah Hasan.

Ketika membuka cermahnya, KH Muhammad Tholchah berkata “saya sering mengikuti wisuda.....(sambil sesengukan...) Saya terharu dan merasa sangat berbeda hari ini, bisa mengikuti wisuda manula Khotaman Al Qur’an Memang wisuda kali ini sangat unik, menarik karena para peserta yang berjajar adalah lansia, tetapi semangatnya luar biasa. Rosulullah SAW pernah berkata “ jika kalian masuk waktu pagi janganlah menunggu waktu sore, dan ketika masuk waktu sore janganlah menunggu waktu pagi”. Pesan hadist ini adalah “jangan pernah menunda waktu dan kesempatan”.Memang tidak ada kata terlambat di dalam belajar Al Qur’an. Selama masih bernafas, belajar agama itu tetap wajib hukumnya, sebagaimana dawuhnya Kanjeng Rosulullah SAW “carilah ilmu sejak kelahiran hingga liang lahat”. Salah satu petuah ulama seputar trik mendalami ilmu agama dan menghafal Al Qur’an, yaitu menjaga makanan, menjaga pergaulan antara laki dan wanita, serta menjaga pergumulan. Sebab, ilmu atau Al Qur’an itu cahaya Allah SWT, dan cahaya Allah itu tidak akan diberikan kepada orang yang ahli maksiat. Jadi, berapun usinya, jika bersunguh sungguh belajar kitab suci dan agama, jika bisa menjaga pantangan di atas maka Allah SWT akan memudahkan. Firman Allah SWT “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang  mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17).  Rosulullah SAW pernah berkata “sebaik baik kalian adalah orang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR.Bukhori)  Hari ini, MQS (Madrasatul Quran Sabilillah), mewisuda 35 yang terdiri dari penghafal, khataman biasa, dan tahsin. Menariknya, sebagian besar usianya sudah 50-68. Ada juga dua peserta yang usianya 73 tahun. Luar biasa semangatnya.  Ada juga yang usianya 12 tahun. Semua semangat mempelajari kitab suci sangat tinggi, sehingga KH Tholchah’pun berkata “ini kalau bukan kehendak-Nya, tidak mungkin bisa seperti ini”.Dari awal berdirinya, ada sekitar 439 yang sudah belajar kitab suci Al Qur’an di MQS. Para pengajarnya bukan sembarangan, tetapi sanadanya nyambung langsung kepada KH Bashori, dan Mbah Munawar, hingga Rosulullah SAW. Ciri khasa belajar Al Qur’an itu harus jelas sanadnya.  Pesen agung yang disampaikan KH Bashori,melau sambutan Gus Anas, beliau berkata “setiap sesuatu ada zakat, dan zakatnya orang yang ber ilmu adalah adalah ngajarkan ilmunya”. Begitulah yang disampaikan oleh direktur MQS Sabilillah, KH Anas Bashori Alwi.

Dalam tradiasi tolabul ilmu, khususnya membaca, tahfidul quran dan tahsin, adalah sanad. Dengan begitu, semua bisa dipertangung jawabkan.  Jangan khawatir, bagi yang tidak bisa, atau belum bisa menghafal membaca Al Qur’an, atau menghafalkanya, karena berkontribusi bagi kelancaran MQS Madrasah Al Qur’an Sabilillah berarti telah ikut serta menghidupkan kitab suci Al Qur’an. KH Tholhah menceritakan bahwa dirinya pernah menghatamkan Al Qur’an selama tiga kali di Musolla tempat tinggalnya semasa masih kecil. Waktu itu beliau dalam kondisi Yatim. Baru memasuk usia 12 tahun, beliau melanjutkan ngaji Al Qur’an dipesantren. Selanjutnya beliau melanjutkan nyantri di Tebu Ireng Jombang. Barokahnya Al Qur’an sangat dahsyat bagi kehidupan pribadi dan keluarga. Begitulah beliau menceritakan. Kemudian beliau menceritakan nikmatnya membaca Al Qur’an ditenggah malam. Sayyid Qutub dalam tafsirnya berkata “dibawah naungan Al Qur’an itu nikmat, tidak akan bisa mengetahuinya, kecuali orang yang merasakannya”. KH Tholhah berkisah “saya sangat menikmati bacaan Al Qur’an setiap malam. Sudah tiga tahun lamanya, istri saya membaca Al Qur’an setiap malam sebum tidur di dekat kepala. Jadi saya ini, di antarkan tidur dengan bacaan Al Qur’an. Ini sangat nikmat. Dulu, anak kecil pengantar tidurnya adalah dongeng. Sekarang pengantar tidurku adalah bacaan Al Qur’an istri sendiri.

Kemudian Kyai Tholhah berkata “beruntung saya memiliki istri, bisa membaca Al Qur’an. Bacaanya bagus dan merdu, karena pernah nyantri di KH Bashori Alwi”. Pernah saya bertanya kepada istriku “kenapa mau menadi istrku yang melarat? Sang istripun menjawab “embohlah, sing penting nurut sama orangtua”. Pernah KH Tholchah menyampaikan ceramah di kediaman Pak Samsudin tentang “keluarga, makin tua makin bahagia”. Rupanya, KH Tholchah menuturkan bahwa semua itu berkah dari Al Qur’an. Sejak kecil dikenalkan Al Qur’an, akhirnya membawa berkah, bahkan diambil menantu di Singosari. Orang yang sudah dikenalkan Al Qur’an sejak kecil, maka dagingnya akan bercampur dengan Al Qur’an. Sehingga hidupnya dijaga oleh Allah SWT. Rumah yang di dalamnya selalu digunakan membaca Al Qur’an, akan memiliki kelebihan mendapat keluasan di dalamnya, luas rejekinya, dan Malaikatnya selalu ikut masuk di dalamnya, dan syetan keluar semuanya. Sedang rumah tidak pernah dibacakan Al Qur’an, maka rumah menjadi sempit dan sumpek. Keluarga tidak betah di dalamnya. Jadi, jika ada rumah yang bagus, tetapi penghuninya tidak nyaman, rejekinya berkurang, berarti jaramg di gunakan membaca Al Qur’an. Pernah dalam setahun, KH Tholchah membaca Al Qur’annya tidak sering. Rupanya dampaknya luar biasa. Rejekinya memang tidak banyak, namun berkahnya yang sangat berkurang. Sehingga yang nyantol dirumah tidak banyak. Kelihatannya banyak tetapi selau kurang. (*)